Paket Terpenting dari Teheran
Kabut pagi belum lagi menipis ketika telepon berdering. Bu Kandar menekan tombol penerima dengan jari gemetar. Dari seberang benua, suara Ario terdengar pecah, teriris kepanikan. “Buk… kita di Teheran akan segera mengungsi…” Kata-katanya berhamburan seperti serpihan ledakan, menggambarkan kota yang dikoyak perang Iran-Israel. Gedung-gedung menjulang berubah menjadi sasaran rudal, langit dipenuhi asap hitam, dan dentuman menjadi irama hidup yang menyesakkan.
“Lalu kantormu, Ario?” Bu Kandar berusaha menahan getar suaranya, mencengkeram tepian meja kayu tua. Di ujung sana, Ario bercerita tentang kantor Tirani yang masih berdiri, meski hanya selembar tipis dari zona merah pertempuran. Nafas Bu Kandar baru melambat saat mendengar anaknya hanyalah pengantar paket untuk wilayah Teheran, ibu kota Iran yang kini padat dan berbahaya itu. Jabatannya tak mengharuskan dia berada di garis depan konflik, meski ancaman selalu mengintai setiap sudut kota.
Tanpa menunda, Bu Kandar melesat ke kantor pusat Tirani di Jakarta. Kaki-kakinya mengenal setiap inci lantai marmer gedung itu. Dulu, dia sekretaris andalan yang mengukir jejak pengiriman barang hingga ke ujung dunia. Sekarang, dengan mata berkaca-kaca dan suara penuh permohonan, dia memelas pada manajemen agar Ario segera dipulangkan. “Dia hanya mencari pengalaman sebentar, Pak,” desisnya, menyentuh kenangan masa lalunya bersama perusahaan. Pimpinan mengangguk paham. Rencana pemulangan Ario memang sudah mengambang di udara, perang hanya mempercepatnya.
Tiga hari. Tiga hari yang terasa seperti tiga musim. Akhirnya, Ario berdiri di bandara Soekarno-Hatta, koper usang di tangannya menjadi saksi bisu petualangannya di negeri berkabut perang. Senyum lega Bu Kandar merekah, menelan semua kecemasan yang bersarang. Ario akan dimutasi ke Semarang. Tanah Air, gumam Bu Kandar dalam hati. Sebuah kata yang kini terasa hangat dan nyata.
Di kamar lamanya, Ario membuka laptop, mencari peta digital Semarang. Ingatannya melayang pada Teheran yang setiap hari bergemuruh. “Semarang, kota banjir tapi berdenyut,” pikirnya, bertekad memahami setiap gang kota baru itu secepat mungkin.
“Kapan pindahnya, Nak? Lokasinya di mana? Kantor Tirani di sana bagaimana?” Tanya Bu Kandar menyusup saat Ario sedang mengemas. Ada kekhawatiran lama yang belum sepenuhnya sirna.
Ario memandang ibunya. “Kantor Teheran tutup sementara, Buk. Situasi belum aman. Karena Ibu minta… ya, Ario pulang. Tak bisa ikut proses selanjutnya di sana.” Suaranya datar, tapi Bu Kandar menangkap sepercik penyesalan yang tertahan.
“Ibu sekarang sendiri, Ari. Siapa yang menemani? Untung Pak Warsito mengabulkan permintaan Ibu, memutasikanmu ke Semarang. Masa percobaanmu di luar negeri kan sudah selesai?” Alasan itu terlontar, mencoba menutupi kerinduannya yang lebih dalam: tak ingin anaknya jauh di tengah bahaya.
“Iya, Buk, sudah selesai,” jawab Ario perlahan. “Tapi… temanku, Mahendra dan yang lain, belum dipulangkan. Kasihan. Kami berempat kerja keras di sana, sekarang tinggal tiga, dan posisi pulang… hanya untukku.” Ada beban rasa bersalah dalam bisikannya.
“Tak apa, Nak. Mereka pasti juga akan pulang. Mungkin… mungkin mereka tak punya ‘info dalam’ seperti Ibu,” Bu Kandar tersenyum kecil, sedikit malu. Sebagai mantan sekretaris yang pernah membidangi rute Timur Tengah, termasuk Teheran yang kini berdarah-darah, dia tahu seluk-beluk dan ‘jalur cepat’. Jaringannya luas, reputasinya sebagai perempuan jujur dan cakap masih dihormati. Dia tahu operasional Tirani di Timur Tengah akan dialihkan sementara ke Beijing, mencakup Asia Timur. Pengetahuannya itulah yang menyelamatkan Ario.
Bu Kandar adalah batu karang yang tak mudah pecah. Pengalamannya keliling Indonesia dan dunia membentuk Tirani menjadi raksasa logistik hingga ke Amerika. Dia adalah sosok seperti Lily Tong San, pemilik Bandung Permai yang legendaris itu, wanita besi yang jadi idolanya. Semangat itu kini dia tularkan, diam-diam.
Di Semarang Barat, Ario memimpin wilayah dan sekitarnya. Pengalamannya bertahan di Teheran menjadi modal berharga. Tugas pertamanya? Mengawal kiriman ikan segar dari berbagai penjuru menuju Kampung Laut, rest area terkenal yang bersaing dengan Mang Engking. Kerja kerasnya, ditambah saran-saran strategis Bu Kandar yang disampaikan lewat telepon atau kunjungan mingguan, membuahkan hasil. Ario cepat diangkat menjadi Manajer Pemasaran. Bu Kandar tak ingin ilmu dan koneksinya terbuang. Dia memberi advice, bukan perintah; membimbing, bukan mendikte. Garis tipis itu dia jaga ketat. Dia paham betul bahaya campur tangan keluarga yang berlebihan dalam perusahaan. Niatnya tulus: membantu anak sekaligus menjaga nyala bisnis Tirani.
Hubungan mereka pun berubah. Tak lagi sekadar ibu dan anak, tapi juga mitra yang saling menghargai. Sore-sore, Ario sering mengajak Bu Kandar ke Kampung Laut, bukan sebagai manajer, tapi sebagai pelanggan setia yang menikmati suasana danau buatan. Selama lima tahun, mereka duduk di tepi air, menyantap gurame goreng atau udang besar hasil peternak dari Kaliwungu, kontak hasil jaring Bu Kandar. Di sana, di tengah riuh pengunjung Sabtu-Minggu dan alunan musik live, Bu Kandar masih sesekali menyapa Reni, staf administrasi: “Mbak Reni, kalau ada pesanan rumit, minta tolong saja sama Mas Ario. Dia sekarang manajernya, tinggal satu rumah dengan Ibu.” Dan Reni pun tersenyum lega, tahu solusi ada di dekatnya.
Suatu siang, kejutan datang. Mahendra dan dua teman Ario lainnya muncul di pintu kantor Semarang Barat. Wajah mereka masih menyimpan bayangan Teheran yang mengerikan.
“Ario!” Mahendra menyambar tangan Ario. “Syukurlah kau sudah di sini, di tempat aman!” Pelukan erat menggantikan ribuan kata. Mereka bercerita tentang detik-detik genting sebelum dievakuasi KBRI, gedung sebelah kantor Tirani yang hancur oleh drone, dan perjalanan pulang yang seperti mimpi.
“Dan kau? Sudah jadi manajer, ya? Tentu saja, anak Bu Kandar!” canda Mahendra, matanya berbinar. “Kami diistirahatkan di Semarang tiga minggu. Dikontrakkan buat riset pengadaan Kampung Laut. Kami ingin melihat kerja hebatmu… dan tentu, ingin ketemu dan belajar dari sang legenda, Bu Kandar.”
Ario tersenyum, rasa bersalah lama sedikit terobati. “Baiklah. Hari ini kita ke rumah. Ibu pasti senang.” Dia menatap ketiga sahabatnya, lalu memandang keluar jendala, ke arah langit Semarang yang cerah dan damai. Tak ada dentuman. Tak ada kabut asap. Hanya ada rasa syukur yang dalam, dan kehangatan rumah yang menanti di Perumahan Marina. Bu Kandar, sang pelabuhan sejatinya, sudah menyiapkan teh hangat. Akhirnya, semuanya pulang.




