Pray for Sumatra, Aceh Indonesia
Elpijah Sinaga tak mengira hujan yang turun begitu lama sampai membuat jembatan runtuh, dan dia mendengar kabar hoaks kalau akan terjadi tsunami yang mengakibatkan semua penduduk mengungsi dan berusaha mencari tempat yang lebih aman , Elpijah yang baru saja melakukan lawatan di kabupaten Aceh Tamiang sebenarnya dia tinggal di Medan berhubung mendapat kabar makciknya meninggal karena sakit maka Elpijah megunjunginya.
Elpijah tak bisa apa-apa karena hujan begitu deras dan tak henti-henti sehingga terjadilah banjir bandang yang menghilangkan semua barang serta keluarga yang menyelamatkan diri sendiri-sendiri. Suasana duka tambah menjadi duka lara , jalan yang menjadi tumpuan transpotasi lenyap…. Elpijah (40) bingung hape tak bisa digunakan semua jaringan sepertinya punah, teriakan tolong di kanan kirinya yang mulai terdengar menipis membuatnya bingung. Perut mulai keroncongan dia hanya berpegang pada cagak rumah yang hampir roboh sementara anakya berada di atap yang sebentar lagi hanyut, untung saja Elpijah bisa berenang namun pakaianya sudah basah kuyup serta anaknya tak berani berteriak cuma memandang emaknya ( Elpijah Sinaga ) yang menuju di atap rumah saudaranya sedangkan peghuninya sudah tak ada menyelamatka diri ke arah yag lebih aman
Elpijah bisa membawa anaknya yang terlihat strees berat dan bersama menuju tempat yang lebih tinggi , lapar dan kedinginan sudah tak terasa lagi begitu mendapat tempat yang lebih nyaman Elpijah terkapar sambil memeluk anak nya yang bernama Roni ( 6 ) . Panas hujan mereka semua rasakan bersama sampai tiga hari mereka menunggu air reda tetapi kadang air malah tambah naik . Elpijah dan Roni beruntung mendapat kayu yang besar ( kayu gelondong ) yang hanyut sehingga cukup nyaman mereka berdua yang tak bisa tidur selama tiga hari terapung-apung di tengah banjir , Elpijah mendengar kabar dari salah seorang yang kebetulan bertemu saat berada di kayu gelonggog sebelahnya kalau di Desa Tanah Terban sudah tak ada makanan serta akses jalan hancur semua seperti ini banjir melulu. Elpijah menahan tangisnya berharap makan untuk anaknya karena mereka semuanya sepertinya terisolasi dari dunia yang biasa dilaluinya, tapi karena dia tidak tahu dimana posisinya desa tersebut dan dia biasa di Medan namun Medan ternyata juga terjadi banjir dan jembatan pada ambyar runtuh semua .
Setelah empat hari terisolasi di rumah makciknya yang sudah meninggal akhirnya Elpijah bisa menerobos keluar dari banjir bandang hebat tersebut karena berkat bantuan regu penolong / relawan pada hari Sabtu dan dia sudah tak mengingat kalender lagi karena fikiran Elpijah hanya menuju Medan saja untuk kembali tapi ternyata Medan juga megalami bencana yang serupa juga kata relawan tersebut .
Warga Desa Tanah Terban, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, tersebut akhirnya memberanikan diri menerabas banjir berjalan kaki bersama regu penolong juga Elpijah dan Roni sambil makan roti pemberian relawan .
Dia memulai perjalanan menyusuri lintas nasional Aceh Tamiang ke Medan, Sumatera Utara, bersama masyarakat dengan berjalan kaki.”Kami ke arah Bukit Rata dan Kebun Tengah,” kata relawan , per telepon memberikan keterangan sebagai laporan , Elpijah sudah tak ada handphone karena ikut hanyut dan menggandeng Roni yang masih lapar karena makanan sudah habis dari relawan tersebut.
“Di sana, ketinggian air tinggi sekali. Kami tak bisa lewat lintas nasional, terpaksa menyusuri hutan dan kebun sawit,” imbuhnya.
Area hutan dan kebun sawit diterabas.
Baginya, terpenting bisa keluar segera dari Aceh Tamiang menuju Medan, Sumatera Utara.
“Empat hari kami terisolasi. Tak ada bantuan sama sekali, banjir kali ini luar biasa,” kata relawan tersebut
Dari Kebun Tengah, dia menuju Salahaji, Kecamatan Pematang Jaya, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.
Selama delapan jam berjalan kaki, barulah ia tiba di Dermaga Salahaji.
Dari Salahaji, dia naik boat nelayan menuju Dermaga Pangkalan Susu, Sumatera Utara, selama dua jam.
“Sampai Pangkalan Susu malam hari sekitar pukul 20.00 WIB,” terang regu relawan tersebut
Di situ, ia bertemu warga yang memberikannya tempat beristirahat dan baju bersih.
“Ada warga di Pangkalan Susu yang menerima kami menginap secara gratis,” lanjutnya.
“Di situlah kami menginap seluruhnya, bahkan diberi pinjam baju ganti oleh warga di sana,” imbuhnya.
Hari ini, dia meneruskan perjalanan ke Sumatera Utara ke rumah Elpijah
Baginya, sementara waktu lebih baik meninggalkan Kabupaten Aceh Tamiang.
“Karena di sana makanan pun tidak ada. Stok di rumah sudah habis semua,” tuturnya.
Dia menyarankan, jika warga dan relawan ingin menuju Aceh Tamiang lewat jalur Sumatera Utara, bisa menggunakan jalur laut dari Dermaga Salahaji menuju Dermaga Paya Bedi, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang.
Lalu dari Paya Bedi menuju Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang.
Saat ini, Aceh Tamiang lumpuh total.
Tidak ada sinyal, listrik, telekomunikasi, dan internet.
Belum diketahui korban jiwa dan kerusakan lainnya.
Sebelumnya diberitakan, saat ini banjir juga merendam Kabupaten Aceh Timur, Kota Lhokseumawe, Kabupaten Bireuen, Kota Langsa, Pidie, Pidie Jaya, dan Kabupaten Aceh Utara.
“Saat hendak turun, jalanan tertimbun longsor sehingga tidak bisa dilalui,”Kami kekurangan air minum, beras, bahan pangan lain, dan pakaian,” katanya sesama relawan per telepon
Sementara itu, Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, menyebutkan bahwa kawasan tersebut belum bisa diakses.
Namun, dirinya sedang mencari cara agar mendistribusikan bahan makanan lewat helikopter.
“Kami turunkan saja bahan makanannya, daripada kelaparan,” kata mereka yag Elpijah tak tahu bicara sama siapa “Kami turunkan minimal roti dan lain sebagainya agar jangan kelaparan,” tambahnya
Banjir melanda sejumlah Kabupaten di Aceh pada akhir November 2025.
Ini merupakan salah satu bencana terbesar di provinsi tersebut, menelan lebih dari 100 korban jiwa dan berdampak pada ratusan ribu warga.
Sejak akhir November, banjir bandang dan tanah longsor melanda tiga provinsi di Sumatera, yaitu Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Hingga Selasa (2/12/2025), satu per satu korban jiwa terus bertambah, sejumlah permukiman warga terendam dan akses jalan terputus, sehingga satu juta warga mengungsi karena kehilangan tempat tinggal.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga pukul 11.00 WIB tadi, korban meninggal akibat bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera dan Aceh bertambah menjadi 631 orang.
Rinciannya, Sumatera Utara 293 jiwa, Sumatera Barat 165 jiwa, dan Aceh 173 jiwa.
Jumlah total korban terluka 2.600 orang, 472 jiwa hilang, dan 1 juta orang mengungsi akibat bencana di Sumatera ini.
Korban terdampak membutuhkan pangan siap saji, air bersih, selimut, obat-obatan, dan dukungan untuk proses pemulihan jangka menengah. Sebagai bentuk kepedulian kepada sesama, Banyak media memplublikasi bencana yang melada Aceh serta Sumatra mereka membuka penggalangan dana untuk membantu para korban terdampak di berbagai titik di Sumatera, seperti di Kabupaten Agam, Kota Padang, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, Kota Medan, Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Aceh Utara, dan Kabupaten Bener Meriah.
Media mengajak seluruh pembaca, mitra, dan masyarakat luas untuk bersama meringankan beban saudara-saudara kita yang sedang berjuang bangkit dari musibah ini.
Setiap kontribusi, sekecil apa pun, sangat berarti bagi korban terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera. Bersama, kita bisa bantu Sumatera bangkit kembali. Pray For Sumatera.
Dari ujung sambungan telepon, Direktur Yayasan Hutan Alam Lingkungan Aceh (HAkA) Farwiza Farhan menceritakan kondisi Aceh yang dilanda banjir bandang pada hari ke tujuh ini. Dia mengatakan, meski sudah ada Starlink sebagai alat komunikasi batuan dari Elon Musk yang diberikan secara gratis karena Elon Musk tak mau megambil keutungan dari sebuah bencana , namun tak sepenuhnya bisa menyambung suara masyarakat yang terdampak bencana. Salah satunya soal persediaan minyak untuk genset sudah mulai menipis.”Teman-teman yang memakai genset selama ini untuk listrik, minyaknya sudah mulai habis. Jadi kondisi masih amat sangat darurat,” katanya . Elpijah dan keluarga berada di penampungan semetara sampai menunggu aman utuk pulang ke rumah.
Relawan mengungkapkan, penyaluran BBM terputus karena akses jalan dari Medan ke Banda Aceh dan beberapa titik lainnya juga terputus.
Dia pun menceritakan, ketika banjir mulai melanda dia sedang berada di Banda Aceh. Pada Senin malam, 24 November 2025, dia tengah dalam perjalanan dari Singkil ke Sebulu Salam, lalu Selasa pagi dari Sebulu Salam kembali ke Banda Aceh.
“Waktu itu posisinya hujan. Tapi waktu itu kami tidak menyadari seberapa parah hujan ini. Kami kira hanya hujan biasa, sedikit lebih deras, namun sampai di Banda Aceh di hari Rabu pagi, saya ke kantor masih hujan, koneksi internet dan listrik hilang, terputus. Waktu itu kita tidak tahu apa yang terjadi,” kata dia.
Pemerintah yang kurang sigap , relawan menilai, banjir besar yang melanda hampir seluruh wilayah Aceh tahun ini terjadi akibat rangkaian faktor yang saling memperburuk satu sama lain.
“Kerusakan hutan sudah di tahap yang sangat parah dan ketidaksigapan (antisipasi) bencana yang ada di pemerintah kita, sehingga keadaannya bisa seperti ini,” ujarnya.
Hujan ekstrem tidak bisa berdiri sendiri sebagai penyebab utama bencana banjir bandang ini.
Curah hujan yang tidak biasa ketemu dengan kerusakan hutan yang sudah sangat parah sehingga resilience dan ketahanan tanah itu menjadi berkurang jauh.
Berbagai daerah aliran sungai telah mengalami degradasi selama puluhan tahun. “Kerusakan hutan yang terjadi 40 tahun yang lalu masih kita rasakan dampaknya sampai saat ini .
Wilayah Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tamiang hingga Langsa terus menanggung risiko besar akibat keputusan tata kelola hutan yang diambil 30-40 tahun lalu.




