Akankah Menuju Perang Dunia Ketiga?
Saher menggandeng tangan putranya, Muhammad, yang tertatih karena kaki kanannya terluka. Meski hatinya berat, ia tak bisa melarang anak itu untuk ikut meninggalkan rumah. Dinding rumah mereka telah runtuh, hanya menyisakan puing-puing dan kenangan. Meski tanpa suara, air mata Saher mengalir perlahan, bukan hanya karena kehilangan rumah, tapi karena dunia yang tak lagi menawarkan rasa aman.
Di perjalanan, Saher membagikan sepotong roti terakhir yang ia simpan, bersama sedikit air dalam plastik lusuh yang ia bawa dari reruntuhan rumah mereka. Muhammad sempat bertanya tentang ibunya yang belum kembali. Saher menjelaskan bahwa sang istri masih berada di rumah saudara, menunggu bantuan makanan dari pihak luar negeri.
Di tengah keraguan dan rasa cemas, mereka memutuskan kembali ke rumah yang hancur. Bukan karena tempat itu lebih aman, tetapi karena tak ada tempat lain yang lebih baik. Pengungsian yang semula dituju tak kunjung memberi kepastian. Saher dan keluarganya memutuskan untuk membersihkan bagian rumah yang masih tersisa, sekadar untuk tempat berteduh dari dinginnya malam.
Tak lama kemudian, sang istri kembali dengan membawa beberapa barang. Ia setuju untuk tetap tinggal dan membenahi ruangan yang ada. Beberapa kerabat pun datang membantu memperbaiki bangunan yang sebagian besar masih bisa dimanfaatkan, karena berada di lantai dasar. Meskipun tanpa atap, mereka berusaha membuat sekat agar dua keluarga bisa berlindung bersama.
Dulu, rumah keluarga ini pernah berdiri megah di wilayah Syeikh Ridwan. Namun serangan udara yang terus-menerus telah meluluhlantakkan semuanya. Beberapa anggota keluarga kehilangan nyawa, sementara yang selamat hanya bisa bertahan dengan apa yang ada.
Ketika malam tiba, suasana menjadi sunyi dan gelap. Tak ada listrik, tak ada lampu. Hanya suara dari drone yang terus berputar-putar di langit, menebar ancaman baru yang tak pernah jelas datangnya. Saher dan keluarganya mencoba tidur lebih awal. Mereka tahu bahwa kapan saja, malam bisa berubah menjadi mimpi buruk.
Di tengah malam, terdengar jeritan dari luar. Seseorang terluka akibat serangan udara dan tergeletak di jalan. Sidiq, adik Saher, segera membantu bersama Saher, membawa orang itu masuk ke rumah mereka yang seadanya. Dengan bantuan kayu bakar sebagai alat bantu, mereka berhasil mengangkat tubuh lemah pria itu ke dalam.
Luka di kakinya cukup parah, terkena serpihan bangunan. Tanpa obat-obatan, mereka hanya bisa menghentikan pendarahan dengan mengikat paha pria itu menggunakan kain seadanya. Pria itu mengatakan namanya adalah Ahmad. Ia terpisah dari keluarganya dan tak tahu ke mana harus mencari. Istri Saher dan istri Sidiq merawatnya dengan apa yang ada, memberi air, makanan, dan tempat berbaring. Ahmad akhirnya tertidur, masih dengan luka yang belum sepenuhnya tertangani.
Pagi hari datang bersama suara mesin drone yang kembali melintas di atas kepala. Mereka masih mengenakan pakaian yang sama seperti kemarin, berdebu, lusuh, dan belum sempat diganti. Setiap hari dijalani dengan rasa waspada, diiringi harapan kecil bahwa bantuan akan datang.
Bantuan dari beberapa negara mulai terlihat, walau tak seberapa. Negara seperti Inggris dan Prancis mulai menyalurkan makanan dan perlengkapan dasar. Sebuah perubahan sikap yang tak disangka, mengingat sejarah posisi politik mereka yang kompleks. Namun, Saher dan banyak warga Gaza tak ingin memperdebatkan niat di baliknya. Mereka hanya ingin bertahan hidup dan menyambut siapa pun yang bersedia membantu.
Sementara itu, situasi politik global semakin rumit. Perang yang terjadi di Gaza telah menarik perhatian berbagai negara. Iran dan Yaman menyatakan dukungan moral, sementara ketegangan antara Iran dan Israel terus meningkat. Banyak yang mulai khawatir bahwa konflik ini bisa berkembang menjadi perang yang jauh lebih besar, bahkan mungkin menuju Perang Dunia Ketiga.
Organisasi internasional seperti PBB masih berusaha menyusun langkah-langkah diplomatik. Tapi semua terasa lambat, nyaris tak berarti bagi mereka yang hidup di tengah reruntuhan. Negara-negara besar seperti Amerika Serikat tetap menjadi kunci utama dalam pengambilan keputusan global, sementara negara-negara Timur Tengah berada dalam posisi yang semakin rumit.
Beberapa negara, seperti China dan Korea Utara, menyatakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. Namun, dukungan politik di panggung internasional belum tentu berbanding lurus dengan perubahan di lapangan. Warga sipil tetap menjadi korban utama. Mereka tak memikirkan ideologi, tak berpihak pada kekuatan politik manapun. Mereka hanya ingin hidup dalam damai.
Di tengah semua ini, ada harapan bahwa negara-negara Timur Tengah dapat bersatu. Jika Iran dan Arab Saudi bisa membangun jembatan kerja sama, mungkin akan terbuka ruang baru untuk penyelesaian konflik. Banyak pihak menyerukan agar senjata nuklir tak pernah menjadi pilihan, karena sekali dipakai, dampaknya bisa menghancurkan seluruh umat manusia.
Gaza tetap menjadi wilayah yang paling terdampak. Banyak yang percaya bahwa pertempuran di sana bukan hanya soal wilayah, tetapi simbol perlawanan yang lebih besar. Seringkali, kota itu menjadi sasaran karena dianggap sebagai basis kelompok militan, padahal banyak warga sipil tak bersalah yang menjadi korban.
Bagi keluarga Saher dan jutaan lainnya, yang dibutuhkan bukan perdebatan politik, tapi tindakan nyata. Mereka butuh keamanan, makanan, air bersih, dan tempat tinggal yang layak. Mereka butuh dunia untuk melihat penderitaan mereka bukan dari lensa politik, tapi dari sisi kemanusiaan.
Malam kembali datang. Dinginnya menusuk tulang, tapi mereka telah menyiapkan ruangan yang hangat sebisa mungkin. Di luar, konflik masih berlanjut. Namun di dalam rumah yang separuh roboh itu, ada sedikit cahaya dari lilin, dari kehangatan keluarga, dan dari harapan yang tak pernah padam.




