Wartinah Petani Sukses
Wartinah putri pak Mansyur baru saja menikah dengan Syarif yang bekerja membantu kakaknya di bengkel sepeda motornya . Sedangkan Wartinah membantu keluarganya yang tinggal di pegunungan merasa kesepian di tinggal terus menerus sama Syarif suaminya
Untuk menghilangkan sepi Wartinah mencoba bercocok tanam dengan menanam bunga di pekarangan rumahnya yang cukup luas. Ibu Mansyur merasa kasihan kepada putrinya dan memberikan tanahnya agar bisa berusaha berkebun sendiri karena rumahnya cukup jauh dari pasar .
Wartinahpun menurut dan segera bercocok tanam , sepertinya Syarif tak mau tahu dengan kegiatan istrinya . Dia tiap minggu memberikan penghasilannya dan tak mau istrinya bekerja di kota . Wartinah menyisihkan uangnya nya untuk membeli keperluan alat-alat pertanian seperti : Pacul, arit,cethok, ember serta gergaji sebagai sarana keperluan rumah tangga juga sapu lidi maupun sapu ijuk.
Wartinah cukup makan seadanya dengan sambal dan kerupuk. Pelan-pelan Wartinah mencukupi keperluan yang tanpa suami tahu karena suaminya Syarif jarang pulang ke rumah dan asyik di bengkel kakaknya. Memiliki tanah yang lumayan luas Wartinah menanam jagung, kacang,dan labu kebetulan ibunya memiliki bibit tanaman tersebut dan diberinya secara cuma-cuma. Wartinah bekerja sendiri membuat kebunnya dengan sisa-sisa kayu atau bambu milik ayahnya yang tak terpakai lagi digunakan untuk menambatkan tanaman labu, atau kacang panjangnya . Rumah Wartinah nampak asri tanaman tertata rapi dan Wartinah mencoba memelihara ayam serta bebek yang dibuatkan kandang secara sederhana disamping kandang ditanami segala tanaman seperti lombok serta gambas juga terong .
Gunung merupakan keberuntungan buat Wartinah yang rajin bekerja . Syarif yang baru pulang kerja kaget , rumahnya nampak rapi , bersih dan penuh tanaman. Dia bertanya pada istrinya siapa yang membantu dirinya dan dijawab semua nya ia lakukan sendiri peralatannya juga ada sebagian dari orang tuanya.Syarif amat malu pada dirinya sendiri , dia pulang tak membawa uang karena kakaknya sakit, uangnya digunakan untuk berobat . Wartinah langsung menanak nasi dan mengambil dedaunan yang Ia tanam, wartinah juga mengambil ayam dan suaminya Syarif membantu memotongnya juga memetik dedaunan
Syarif bersukur memiliki istri yang terampil bisa memanfaatkan lahan juga berternak . Dia tak menyangka istrinya bisa memenuhi kebutuhan untuk hidup , semua Ia tanam di pekarangan yang cukup luas . Syarif kini membantu istrinya dengan mencangkul dan membersihkan rumput serta memberikan makanan untuk ternak ternak . Uang di dapat dari menjual sayuran berbagai jenis .
Kini Wartinah bersyukur karena Syarif bisa sadar sendiri mau membantu menanam juga menata rumah lebih indah di gunung yang berhawa sejuk.Tiap pagi Wartinah menjual hasil kebunnya untuk dibelikan dedak ( pakan bebek serta ayamnya ) juga beras . Dari jual lombok dan terong juga ubi jalar pulangnya membawa ikan, tahu, tempe dan lainnya. Wartinah tak merasa capek, hatinya selalu gembira karena suaminya bekerja tak perlu waktu yang mendesak malahan bisa membuat dapur lebih bagus dengan dibuatkan semen yang lebih kuat .
Ayah dan bu Mansyur datang ke rumah Wartinah merasa senang karena rumah yang dulunya kumuh dan kotor sekarang bersih dan tertata karena Syarif membangunnya dengan senang hati .
Syarif membuat saluran air dari gunung dengan menggunakan bambu sebagai alur air karena memerlukan air bersih untuk memasak,mandi dan mencuci pakaian yang selalu menggunakan air sungai .
Syarif membuatnya dibantu istrinya Wartinah dan disalurkan ke berbagai tempat untuk kandang ayam dan bebeknya di buatkan empang yang lumayan lebar serta berternak ikan lele juga gurami . Bibit dibelinya di pasar sedangkan makanannya dibuatkan sendiri dari dedaunan juga dedak atau sisa nasi yang basi untuk lele maupun ayam juga bebek.
Sepuluh bulan berlalu ayam Wartinah sudah cukup dewasa dan bertambah juga bebeknya, binatang piaraan Wartinah cukup dibuatkan kandang dan dibiarkan lepas , makanan bisa dibuatkan tiap pagi binatang piaraannya leluasa berkeliling dan sore hari sudah pulang di kandang mereka sendiri-sendiri karena ada empangnya sehingga bebek -bebeknya bisa nyebur disana dan bertelur di kandang yang sudah disediakan oleh Wartinah maupun Syarif . Tapi bebek serta ayamnya bertelur sembarangan hingga dibuatkan sarang untuk yang ayam betina agar menjaga anak-anak ayam secara intensif . Bila ingin makan telur tinggal ambil telur bebek ataupun telur ayam suka-suka mengambilnya.
Seorang petani butuh fisik yang kuat dan rajin bekerja baik itu membersihkan rerumputan maupun memberi makan yang teratur.Wartinah dan Syarif bisa hidup layak dengan bertani dan beternak . Mereka hidup rukun. Ayam yang sudah tua Ia jual ataupun Ia sembelih sendiri sebagai lauk makan. Ikan guraminya dipanen dan dijual di pasar. Pasar merupakan tempat pertukaran uang dan barang keperluan sebagai sarana hidup cukup.Kadang Syarif membantu kakaknya di bengkel sambil membawa dagangan berupa ikan, ayam, ataupun bebeknya yang dijual kepada mereka yang membutuhkan . Syarif tanpa malu menawarkan dagangannya karena istrinyapun tak malu bahkan Syarif bersyukur diberikan riski berlimpah di saat panen.
Tinggal di gunung sangat jauh dari gosip karena mereka selalu bekerja di ladangnya, rerumputan selalu ada dan selalu di cabut agar tanaman sehat dan subur . Pupuk yang dipakai Wartinah dan Syarif adalah pupuk kandang , itu sangat alami dan tak ada pencemaran lingkungan. Hidup menjadi tenang dan bisa fokus kepada Tuhannya.
Dua tahun berlalu Wartinah memiliki seorang anak perempuan dan di didiknya sebagai petani mulai dari kecil secara alamiah dan bersekolah di sekolah rakyat agar tak ketinggalan Ilmu Pengetahuan karena zaman semakin maju dan penambahan penduduk semakin semakin bergeser ke tempat manapun .
Ayah Ibu Syarif dan Wartinah berkumpul saat hari Raya di rumah Wartinah.Mereka sangat senang karena menantu dan anak bisa mencukupi keperluan hidupnya.Mereka hanya berpesan untuk melestarikan usahanya karena sekarang sudah dibangun jalan penghubung dan bisa di akses kemana saja.
Angkutan umum mulai berdatangan , Wartinah mengambil uangnya yang di simpan di almari pakaian untuk membeli sepeda motor . Dan kebutuhan. Dan kebutuhan untuk refresing mulai nampak dibutuhkan. Dengan motor Syarif bepergian dan kembali bertani dan menjaga ternaknya untuk kelangsungan hidupnya . Tetangga mulai berdatangan mereka butuh pekerjaan dan rumah tinggal untuk kelangsungan hidupnya.
Gunung sekarang menjadi ramai . Putri Wartinah sekarang sudah SMP ( Sekolah Menengah Pertama ) sedangkan adiknya sudah kelas lima SD ( Sekolah Dasar ). Keluarga Wartinah Syarif mulai membutuhkan televisi untuk sarana pendidikan putra putrinya dan keluarga sebagai bekal kehidupannya mendatang.
Wartinah dan Syarif sudah mulai capek dan pekejaan bertaninya mulai diserahkan kepada putrinya yang sekarang sudah lulus SMA juga putranya yang mulai mengganti peralatan pengairannya dan mengurus pengadaan air untuk warga warga sekelilingnya dengan sumber air gunung yang Syarif buat dan dibangun putra putrinya kembali dengan perlatan dan gedung yan lebih baik sebagai penerusnya.
Ayah Wartinah pak Mansyur meninggal dunia karena sakit, Wartinah sekeluarga sangat berduka .Wartinah dan Syarif sekarang mulai berolah raga untuk menjaga stamina, putrinya selalu mengingatkannya juga istirahat dan makanannya terjaga agar orang tuanya berumur panjang . Kini putri Wartinah sudah menjadi dokter dan putranya masih kuliah di fakultas hukum.
Wartinah mengadopsi anak laki-laki dan disekolahkan dengan baik . Dalam keadaan sudah tua Wartinah semakin sayang kepada suaminya . Wartinah dan Syarif berharap putra/putrinya segera menikah dan dia ingin menimang cucu . Tapi kedua anaknya masih ingin sendiri menemani ayah ibunya . Begitulah hidup perubahan berganti setiap saat, termasuk ilmu pengetahuan yang selalu melangkah lebih maju.




