DramaKehidupan

Ambisi Yang Membelenggu

” Masa lalu adalah sebagai kenangan…sekarang ini masa hari ini …it’s time…today…jadi janganlah kau ingat lagi masa lalu ” Kata Mustakim yang memberikan nasihat kepada sahabatnya Reflan semasa kelas SMA. ” Tapi aku seperti ini karena masa laluku yang terpuruk …” Jawab Reflan membela diri .

Mustakim : ” Sekali lagi lupakan …dan atur masa sekarang…okay…..?! ” Reflan diam saja ingin membela dirinya karena dia yang mengalami permasalahan tersebut. Mustakim mengangkat bahu Reflan yang masih ogah-ogahan tapi Reflan akhirnya bangkit lagi dan duduk di kursi mendampingi Mustakim.

Mustakim : ” Bagaimana kamu bisa menyelesaikan kuliahmu….kalau cara berfikir kamu seperti ini…”

Reflan : ” Aku terpojok karena kata-kata ibuku yang selalu mendikteku… dan ibuku selalu mengawasiku segala hasil kuliahku… tapi dia juga menyerang sendiri menghadap ke dosen pembimnbingku serta menyeramahinya….” Mustakim mengernyitkan dahi serta menggelengkan kepala.

Mustakim : ” Jadi selama ini kamu selalu dimonitor ibu kamu….? terus apa tanggung jawap bapakmu saat ini ? ”

Reflan : ” Bapakku lumpuh kena stroke….dia tak bisa apa-apa…..” . Mustakim menghela nafas dalam – dalam menyaksikan sahabatnya yang tertunduk serta malu karena tak bisa menyelesaikan pekerjaan yang diberikan sahabatnya yaitu untuk mengkoordinir dana mahasiswa jelang kelulusan karena Mustakim seorang komting dan wajib memberikan perhatiannya. Maustakim mondar-mandir mencari kata-kata yang tepat untuk Reflan agar dia segera bangkit dari keterpurukan.

Mustakim : ” Okay…sekarang ceritakan padaku setelah kamu lulus SMA …” Reflan terbelalak matanya dia merasa yakin segala permasalahannya segera diatasi.

Reflan : ” Ya…tolong dengarkan dan jangan sampai diceritakan orang lain…” Mustakim mengangguk dan mendekati sahabatnya Reflan yang ingin curhat padanya. Lalu Raflanpun bercerita.

” Ibuku waktu aku masi lulus kelas enam SD dan memasuki SMP semua yang atur ibuku, sedangkan bapakku kalah dengan kegalakan ibuku….dan aku diterima di SMP karena memanfaatkan pengaruh ibuku yang menjabat anggota Dewan, apapun yang aku lakukan semua guru mengijinkan…mungkin karena takut dengan ibuku yang sangat vokal kalu berbicara, Reflan menelan air ludahnya sambil bercerita . Hal ini berlangsung terus sampai aku lulus SMP dan memasuki SMA pun dengan cara sama…ibuku berpengaruh sekali dan berani mendatangi sekolah tanpa malu-malu dan seperti SMP gurupun tak berkutik dibuatnya. Aku diam saja dan menurut dihadapan ibu yang menghendaki aku bisa masuk diSMA idola di kota Semarang sampai aku selesai lulus SMA dan mengenalmu disini “

Mustakim : ” Sebenarnya ibumu baik tapi kenapa engkau yang dulunya nakal sekali dan kini kuliah menjadi pendiam…? ”

Reflan : ” Yaaah itulah masalahnya aku tak bisa memutuskan sendiri keinginannku tetapi ibu terus memaksakan diri, sedangkan bapak sudah tak bisa mengendalikan ibu dan bapak lebih banyak diam bila ada ibu karena dia mendengar desas-desus diluaran kalau ibu melakukan perselingkuhan dengan sesama Dewan sepertinya bapakku sudah tak mampu memberikan nasihat pada istrinya. Kamu tahu nggak aku kuliah disini juga karena keinginan ibu, padahal aku lebih suka masuk ke saint dari pada sosial media tapi itu semua karena keinginan ibu yang tak bisa dikalahkan kalau sedang bicara. Rumah rasanya sepi tak ada tawa jika ibu di rumah, lebih parahnya bapak semakin berat strokenya karena malas minum obat. Bapak tak mau minum obat kalau yang memberikan pembantunya dan merasa rendah diri dihadapan pembantunya .

Pembantu : ” Pak ini obatnya diminum untuk pagi hari untuk siang hari nanti saya ambilkan lagi…” , begitulah bapakku sampai malas minum obat karena ibu selalu mengaturnya…” Mustakim menilai sebenarnya ibuknya baik tapi kenapa mereka menyalahkan ibuknya dan Reflan pun juga ikut menyalahkannya fikir Mustakim.

Reflan : ” Aku senang dengan posisi ibu seperti ini tapi dia tak mengerti kemauan aku, bapak dan kedua adikku yang sekarang kuliah ambil jurusa Sospol padahal dia pingin mengambil jurusan kedokteran, itu karena ibu menginginkannya. Kau tahu sendiri kan saat kita sidang, ibuku datang menemui rektor dan berbicara yang aku sendiri tak faham dan cuma 15 menit lalu pergi, sedangkan bu Desi dosen kita nyinyir melihat ibuku…..Aku tahu pasti ibuku telah mempengaruhinya . Maafkan aku sampai tak konsen dengan tugas kemahasiswaan gegara ibu selalu mendatangi kampus dan bertemu dengan rektor . Kamu tahu aku bisa pergi-pergi ke luar negeri karena diajak ibuku sebagai teman seperjalanan, sampai kamu tahu sendiri Erika marah karena aku ceroboh waktu presentasi , aku sebenarnya malu tapi aku harus bagaimana nilai SKS aku baik kamu tahu sendiri dan Rahman sewot melihat kemampuanku, aku rasanya tak berarti di kampus…” Reflan menangis karena dosen tak memberikan tugas kepadaku dan membiarkan aku berjalan sendiri, padahal aku perlu bantuan dosen tapi dosen cuma tersenyum saja dan mengatakan ” Selamat Menjalankan Tugas KKN ” . Tugas KKN di Bali selesai tepat waktu sampai skripsiku juga diurus petugas kantor ibuku untuk membuatnya , bahkan dia telah memesankan kantor kerja tempatku yang akan datang sudah diketahui keberadaannya. Aku sebenarnya ingin seperti kalian-kalian…tapi ibuku memenjarakan diriku untuk bergerak, seperti saat ini tuga yang engkau berikan padaku harus diselesaikan Erika. Apakah engkau ingin menguji aku….? “

Mustakim : ” Fan…Reflan sebenarnya aku iri padamu…kamu bisa melalang buana ke beberapa negara sedangkan dosen memberikan izin padamu untuk menemani ibumu karena tugas kantornya yang ada di Pemkot sebenarnya ibumu sudah menyalahi aturan kemahasiswaan. Tapi dosen tak berdaya kelihatannya.

Reflan : ” Yaaah itulah aku…aku yang tak berani menantang ibu karena malu didengar tetangga kalau berkelahi…dan kehormatan keluarga amat dijunjung tinggi ibuku walaupun hatiku berteriak tak suka dengan cara ibuku yang melakukan dengan tangan besi dan pengaruh yang negatif karena aku yang rugi sendiri di masyarakat dan semuanya diatur ibuku baik tingkat RT sampai perkuliahanpun dia begitu berperan. ” Reflan menangis lagi hatinya terasa teriris karena semua dikuasai ibunya .

Reflan mendapat telepon dari seorang wanita tapi panggilan itu di speaker sehingga Mustakim mendengarnya.

” Hallo Reflan sayang…, aku disuruh jemput mama sekarang…apakah kamu sudah siap…..? “

Reflan : ” Aku masih meeting tunggu setengah jam lagi….” . Tapi tiba-tiba terdengar suara ibunya dan berteriak : ” Kamu sudah boleh pulang dan acara wisuda akan berlangsung esok hari…pulang sekarang….kamu akan ibu perkenalkan pada kepala kantormu yang baru saat ini “

Reflan : ” Baik…baik buk……..” Mustakim mendengar sendiri percakapan itu dan hanya bisa memandang kepergian Reflan yang tertunduk tapi Mustakim mengejarnya karena ingin menemani Reflan dan ingin tahu siapa sebenarnya wanita tersebut.

Mustakim : ” Tenang brow…jangan cepat-cepat , santai sajalah dulu…ngomong-omong siapa itu cewek ? “

Reflan : ” Itu calon istriku….orangnya cantik tapi sama sepertiku…yang terpenjara oleh ibunya juga “

Mustakim : ” Sekolah lulus , perjalanan luar negeri sukses , pekerjaan sudah ditetapkan…, istri saja sudah di jodohkan oh..oh… betapa indahnya dunia engkau beruntung Pan…”

Reflan : ” Tukar saja posisiku dengan posisimu…engkau pasti tak mau menjalaninya…itulah yang kurasakan ..kuliah hanya untuk formalitas sedangkan aku tak tahu apa-apa…” Reflan mendekati mobil yang sudah siap di depannya tetapi dia menangis saat memeluk sahabatnya Mustakim

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Support Kami Dengan Mematikan Adblock