Pramugari Udara
Vina baru saja selesai mengerjakan ujian bahasa Inggris. Dengan tenang ia meninggalkan ruang kelas, merasa percaya diri dengan jawabannya. Di kantin sekolah, ia menunggu sahabatnya, Cahyati, sambil menikmati martabak dan roseles kesukaannya.
Tak lama kemudian, Cahyati datang sambil tertawa lalu memeluknya erat.
“Bagaimana tadi ujiannya? Lumayan kan?” tanyanya riang.
Vina terkekeh, agak terkejut oleh pelukan itu. “Aih, kamu bikin kaget saja. Ini aku sudah ambilkan roseles untukmu.”
Mereka pun menikmati camilan bersama, ditemani cabai rawit yang membuat suasana semakin hangat.
Saat itu Bik Manan, penjaga kantin, menghampiri sambil membawa selebaran. “Non Vina, Non Cahyati, ini ada pengumuman. Katanya penting untuk yang pintar bahasa Inggris,” ujarnya.
Vina menerima selebaran itu. Begitu membacanya, matanya berbinar—pendaftaran calon pramugari udara. Ia menoleh pada Cahyati.
“Bagaimana, kamu tertarik?”
Cahyati tersenyum sambil mengunyah. “Biar selesai ujian dulu, baru mikir yang lain.”
Vina hanya mengangguk, lalu menyimpan selebaran itu baik-baik.
Di rumah, rasa kantuk membuatnya langsung terlelap sebelum sempat menyentuh nasi pecel buatan ibunya. Ibunya hanya bisa tersenyum kecil, membereskan tas dan sepatu anak semata wayangnya itu. Sejak ayah Vina meninggal saat ia berumur dua belas tahun, kedekatan mereka semakin erat.
Ketika terbangun, Vina melihat selebaran itu kembali. Dengan penuh semangat, ia berkata, “Ma, Vina mau coba melamar jadi pramugari. Bagaimana?”
Sang ibu terdiam sejenak lalu menjawab lembut, “Kamu tak jadi kuliah?”
“Biayanya besar, Ma. Vina coba dulu ya, siapa tahu berhasil.”
Ibunya menghela napas, lalu mengangguk. “Terserah kamu. Mama hanya ingin kamu punya masa depan yang baik.”
Hari kelulusan tiba, dan Vina langsung mendaftar. Sayangnya, ia gagal dalam seleksi bahasa Inggris. Persaingan begitu ketat, sementara kuota hanya empat orang. Meski kecewa, ia tidak menyerah. Ia ikut kursus bahasa Inggris dan terus berlatih bersama Cahyati.
Suatu sore, Cahyati datang membawa setumpuk buku bacaan.
“Ayo, aku pinjamkan. Kamu harus lebih lancar kalau mau lolos nanti,” katanya memberi semangat.
“Terima kasih, Yah. Kamu sudah kuliah di Unpad, sementara aku masih kursus. Tapi aku yakin suatu saat pasti ada jalannya.”
Cahyati menepuk bahunya. “Kalau bisa, ambil diploma juga. Biar pendidikanmu tambah maju.”
Ibunya yang mendengar pembicaraan itu dari dapur ikut menyahut, “Kalau memang ada kesempatan, ambillah, Nak. Mama dukung.”
Setahun berlalu. Vina akhirnya berhasil meraih diploma bahasa. Ia mengajar les privat untuk membantu ibunya, hingga suatu hari wali muridnya, Pak Ramelan, memintanya mendampingi tamu kantor dari luar negeri. Keahliannya membuat banyak orang kagum. Dari pertemuan demi pertemuan, jalannya terbuka sampai akhirnya ia dipertemukan dengan Oscar, seorang pemilik maskapai penerbangan.
“Vina, maskapai kami sedang mencari pramugari. Saya rasa kamu cocok,” kata Oscar sambil mengulurkan tangan.
Vina nyaris tak percaya. Ia menyambut uluran itu dengan mata berbinar. “Terima kasih banyak, Pak. Ini benar-benar mimpi saya.”
Sejak hari itu, hidupnya berubah. Seragam pramugari, koper besar, dan rute penerbangan menjadi kesehariannya. Tiga tahun berlalu, Vina sudah menjelajahi berbagai kota di Indonesia.
Suatu hari di Kupang, ia melihat sosok yang amat dikenalnya. “Cahyati?” serunya tak percaya. Mereka berpelukan erat, melepas rindu.
“Selamat bertugas ke luar negeri, Yah. Aku masih di dalam negeri saja,” kata Vina sambil tersenyum.
Cahyati menepuk pundaknya. “Sabar, Vin. Pengalamanmu sudah banyak. Pasti sebentar lagi kamu juga terbang ke luar negeri.”
Keyakinan itu benar. Beberapa bulan kemudian, Vina mendapat tugas pertamanya ke Singapura. Ia bahagia bukan main, terlebih karena ibunya selalu mendukung lewat doa dan telepon.
Hingga akhirnya, pada suatu penerbangan bersama Cahyati, cobaan datang. Pesawat mereka tergelincir saat hujan deras di Yogyakarta. Namun berkat pengalaman dan ketenangan kru, semua penumpang selamat.
Hari itu, seorang penumpang berkata dengan penuh rasa terima kasih, “Pramugari seperti kalian benar-benar pahlawan di udara.”
Vina menatap sahabatnya, lalu tersenyum lega. Ia sadar, cita-cita yang dulu hanya berawal dari selebaran di kantin sekolah, kini telah menjelma menjadi perjalanan penuh arti.




