Kehidupan

Perjuangan Parmin edisi Bengkel Rahmad.

Tambal ban yang digeluti pak Rahmad sudah mulai nampak ramai walaupun sederhana, ini dikarenakan anak pak Rahmad membantunya sejak lulus sekolah STM Pembangunan . Dia bernama Parmin menambah usaha cucian motor juga, karena masih ada lahan yang tersisa. Adik Parmin dua orang dan baru sekolah SMP( Sekolah Menengah Pertama ) yang bernama Lusiawati dan satunya lagi masih SD ( Sekolah Dasar ). Lusi begitu panggilannya sudah kelas tiga SMP. Sedangkan Kinanthi danadiknya baru kelas enam . Pak Rahmad berjuang untuk menyelesaikan sekolah anak-anaknya

Parmin ikut bertanggung jawab dengan menambah usaha barunya dibantu ibuknya yang memasukkan keuangan dan pengeluaran. Rumah menjadi tempat usaha bersama agar usaha bisa berjalan lancar, seiring dengan kemajuan pekerjaan dan mulai menambah tenaga untuk membantu pekerjaan , Parmin mendapatkan teman namanya Tarjo atau Jojok biasa dipanggil begitu dalam bekerja.

Karena rumah nampak sempit , maka pak Rahmad atas usul Parmin mengontrak rumah di kampung belakang sedangkan tanah yang tersisa sudah direncanakan Parmin untuk menambah perluasan usahanya. Bapak dan Ibu Parmin menurut saja karena Parmin memiliki wawasan yang luas bukan seperti bapak ibunya yang berpendidikan rendah.

Dulu pak Rahmad hanyalah seorang tukang becak dan ketika Parmin di terima di STM Negeri becaknya dijual agar Parmin tak seperti bapaknya yang bodoh , uang penjualan becak digunakan untuk membayar dan sebagian lagi untuk menambah kebutuhan tambal ban yang mulai ditekuninya . Pak Rahmadpun beralih profesi sebagai penambal ban karena dia bisa mengerjakan dengan baik , kadang dibantu Parmin kalau bapaknya capek . Mereka begitu miskin tetapi saling bekerja sama serta bantu membantu agar Parmin dan adik-adiknya tetap sekolah. Meskipun kadang pembayaran sekolah terlambat karena masukan kurang Parmin dengan sabar tetap mendukung bapaknya tanpa malu, bahkan Parmin membantu juga kalau bapaknya kecapaian.

Kini Parmin sudah lulus STM dan membantu usaha orang tuanya demi untuk adik-adik Parmin yang masih kecil. Lusiawati atau Lusi panggilannya sudah kelas 3 SMP ( Sekolah Menengah Pertama ) dan Kinanthi sudah kelas enam SD ( Sekolah Dasar ).

Parmin yang memiliki kepandaian dalam automotif kendaraan bermotor termasuk mobil, karena tak ada dana dia menambah pekerjaan dengan membuka cucian motor. Pak Rahmad menurut saja ketika Parmin ingin membuka bengkel sepeda motor karena sayang ilmunya tak tersalurkan. Pak Rahmad begitu gembiara karena bisa membantu anaknya berusaha, cucian motor dipertanggung jawabkan kepada Jojok, Parmin kadang membantu Jojok kalau bengkelnya bisa diatasi bapaknya. Rupanya cucian motor semakin ramai hingga Parmin menambah tenaga lagi untuk cucian motor dan tambal ban .Bahkan adiknya Lusi membantu ibuknya karena kejatuhan ban-ban karena terpeleset sampai tak sadarkan diri.

Tapi kini setelah rumah pindah di gang belakang ruang kerja jadi lebar, rumah disulap Parmin menjadi kantoran dan suku cadang, diluaran sebagai tambal ban dan cucian motor serta service sepeda motor. Hingga pada suatu hari datanglah seorang laki-laki bersama istrinya yang minta diperbaiki vespanya. Parmin tak sengaja menyapanya karena dia calon pelanggan yang ternyata dia adalah guru sekolahnya yang bernama pak Ruswandi, mereka saling sapa dan Parmin segera menyelesaikan kerusakannya tersebut. Pak Ruswandi meminta tolong kepada Parmin untuk memperbaiki mobilnya yang sudah ringsek bisa memperbaiki seperti saat praktek di balai pendidikan dulu. Parmin tersanjung dan dia memperkenalkan kepada ayahnya yang melihat pak guru Parmin berada di bengkelnya. Parmin bersedia memperbaiki mobil pak Ruswandi dan akan dipindahkan di bengkel Rahmad kalau sudah bisa jalan . biar dekat dengan suku cadangnya dan dibantu dengan tenaga yang lain. Pak Ruswandi segera pulang karena vespanya sudah baik lagi,

Suatu hari Parmin mendapat undangan dari sekolahnya yang membawa pak Ruswandi bersama guru BP . Parmin mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan yang diadakan di Jepang dan bisa diteruskan kuliah kalau mendapat beasiswa. Parmin setuju sekali dan akan mengikutinya karena pelaksanaan pendidikannya nunggu tahun depan . Parmin menceritakan kepada bapaknya kalau dia akan mengikutinya karena ini suatu kesempatan dan akan menggembeng bapaknya di perbaikan roda empat bersama Tarjo .

Lusi dan Kinanthi lulus sekolah dan segera mendapatkan sekolah lanjutan sedangkan Parmin bolak-balik kesekolahannya mengurus keberangkatannya di Jepang yang akan di danai dari Dephub dan PT Astra . Parmin mulai menata diri karena sering bertemu dengan orang-orang penting dan kembali pulang ke bengkel kalau pertemuannya sudah selesai. Disekolahnya dia diperkenalkan kepada nona Michiko sebagai wakil dari pemerintahan Jepang yang sedang melakukan study banding.

Tamasagi datang dari pihak PT Astra yang akan menemani Parmin dalam berbahasa Jepang sampai bisa melanjutkan ke jenjang Strata 1, Parmin sambil bekerja di bengkel mulai berkomunikasi bahasa Jepang . Lusi dan Kinanthi membantu membersihkan kantor dan membereskan semua administrasi secara sederhana, karena bengkel Rahmad semakin maju dan pelanggannyapun bertambah. Bahkan Parmin di tarik membantu PT Astra di bagian mekaniknya , ini menambah senang Tamasagi bisa berkomunikasi daisaat berada di Astra.

Tiba waktunya keberangkatan ke Jepang , bapak ibu Parmin merasa kesepian pastinya sehingga mereka menangis memeluk Parmin bergantian dengan adik-adiknya . Jojok terharu dengan Parmin yang begitu tegar serta terlihat lebih rapi dan cakep karena tertata pakaiannya. Parmin berpesan kepada bapak ibunya agar menjaga bengkel dengan baik dan mereka menganggukkan kepala sambil menciumi putranya yang akan cukup lama berada di Jepang. Dari Semarang pesawat menuju Jakarta dan malam harinya menuju Jepang. Baru kali ini Parmin naik pesawat tapi dia tidak merasa canggung karena sering berkomunikasi dengan orang-orang Dephub dan dengan bos-bos PT Astra. Pesawat terbang menuju Jepang bersama Parmin yang bergetar hatinya untung disampingnya ada Tamasagi yang menemani keberangkatannya

Nona Michiko sudah menunggu di bandara Haneda atas perintah pamannya Mr Ahogi pejabat pemerintah bagian pendidikan agar mengurus pendidikan Parmin. Nona Michiko yang sudah berkenalan dengan Parmin memberitahukan keberadaannya yang disambut gembira karena perjalanannya berjalan lancar sampai di Jepang .

Dengan bantuan Michiko akhirnya Parmin mendapatkan kuliah di Yokohama tepatnya di YNU ( Yokohama National University ) . Program bahasa Jepang terselesaikan dan Parmin diterima di Bagian Teknik dengan waktu yang sudah dipastikan selama 4 tahun. Parmin mengabarkan semua ini kepada ayah, ibu dan adik-adiknya serta bercanda dengan Tarjo agar lebih giat dalam bekerja.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close

Adblock Detected

Support Kami Dengan Mematikan Adblock