Di suatu sore yang tenang di pinggiran Ariana, Ahmed duduk bersandar di kursi kayu ruang kerjanya. Di tangannya tergenggam erat selembar surat dengan tulisan tangan halus dan penuh luapan perasaan. Surat itu datang dari putri semata wayangnya, Asma.
“Allah… Allah ya Baba. Semoga keselamatan dan kedamaian selalu bersamamu, Ayah. Aku akan mengunjungimu dan menjunjung kehormatanmu, karena aku bersumpah kepada Allah, aku tak akan mencintai siapa pun selain dia…”
Ahmed menarik napas panjang. Setiap kalimat dalam surat itu terasa seperti jeritan jiwa seorang gadis muda yang sedang terhanyut dalam gelombang perasaan.
Asma adalah gadis tinggi semampai dengan rambut panjang mengalir hingga pinggang. Baru saja lulus dari sekolah menengah atas, ia menyimpan cita-cita besar untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi. Sejak sang ibu berpulang, Asma menjadi pusat hidup Ahmed, sekaligus pengingat akan kasih sayang yang dulu pernah mereka miliki sebagai keluarga utuh. Namun kali ini, cinta datang dengan cara yang lain. Diam-diam dan tak terduga.
Semua bermula dari seorang pria asing yang dikenal sebagai Sidi Mansour. Seorang saudagar muda dari Tunisia Selatan, berwajah tenang dan penuh wibawa, yang melintasi gurun membawa dagangan dari kota ke kota. Hanya dalam beberapa hari, sosok itu telah mengguncang perasaan Asma.
Di ruang tamu yang sederhana, Ahmed membuka percakapan.
“Engkau baru mengenalnya beberapa hari, Asma. Sudah tak enak makan, tak nyenyak tidur. Masa depanmu masih panjang.”
Asma menunduk. Suaranya lirih.
“Ayah… tolong cari tahu siapa dia sebenarnya. Hatiku ini tak bisa diam, Ayah. Aku terus memikirkannya.”
Ahmed tersenyum kecil, meski matanya menyimpan kekhawatiran. “Selesaikan dulu kuliahmu. Bila memang dia jodohmu, tak akan ke mana. Jalan itu akan terbuka.”
“Aku takut, Ayah. Takut kalau melihatnya lagi. Rasa ini membuat hatiku bergetar. Aku bahkan tak sanggup memandang matanya.”
Air mata menggantung di ujung mata Asma. Ahmed mengalihkan pandangannya ke dinding, menatap foto mendiang istrinya. Di dalam hatinya, ia berdoa agar bisa menjadi pelindung bagi anaknya. Ia tahu, cinta pertama seorang gadis bukanlah perkara ringan.
Beberapa hari kemudian, kebahagiaan menyapa. Asma diterima di Universitas Tunisia Afrika Utara, jurusan Ekonomi, sesuai cita-citanya. Ia pulang dengan semangat dan wajah bersinar. Namun sesampainya di rumah, kabar badai pasir datang dari siaran radio. Ahmed melarang Asma keluar rumah.
Di tengah persiapan menghadapi badai, datanglah tamu tak terduga. Sidi Mansour, bersama tiga orang pembantunya, muncul di depan rumah mereka. Mereka hanya ingin berteduh sementara, menghindari amukan gurun yang mulai menerpa.
Ahmed menyambut mereka dengan tangan terbuka. Asma, dengan gugup, menyiapkan makanan dan minuman. Ketika masuk ke ruang tamu membawa nampan, matanya tak berani menatap wajah Sidi Mansour. Namun ada saat di mana pandang mereka bertemu, dan dunia seolah berhenti berputar. Asma segera kembali ke kamarnya. Di hadapan cermin, ia mencoba menenangkan diri. Tapi hatinya berkecamuk. Wajah pria itu terus muncul dalam bayangannya.
Setelah badai reda, Sidi Mansour berpamitan. Ahmed memanggil putrinya untuk keluar.
“Asma, kemarilah. Berkenalanlah dengan Tuan Mansour, ia ingin berpamitan.”
Dengan langkah ragu, Asma datang dan mengulurkan tangan. Jemarinya menyentuh tangan Sidi Mansour yang hangat. Tak banyak kata keluar dari mulutnya, hanya namanya yang ia sebut lirih.
Sidi Mansour tersenyum. “Putri Pak Ahmed cantik. Sayang, pemalu. Saya sedang mencari sekretaris untuk membantu usaha saya.”
Ahmed menjawab tenang. “Putriku baru saja mulai kuliah. InsyaAllah, jika memang ada waktu dan kesempatan, mungkin bisa dijalani bersama.”
“Baiklah. Kalau suatu hari ia ingin bekerja, katakan saja. Saya akan selalu menerima. Terima kasih, Pak Ahmed.”
Mereka berpamitan. Setelah mobilnya melaju pergi, Asma segera menghampiri ayahnya.
“Ayah, apa yang dikatakannya tadi?”
Ahmed menatap anaknya lembut. “Sudahlah. Fokuslah pada kuliahmu dulu. Bila dia benar-benar untukmu, Allah akan menunjukkan jalannya. Doakan yang baik, anakku.”
Hari-hari berlalu. Sidi Mansour tak lagi muncul. Hanya para pembantunya yang sesekali mengantar barang ke toko kain milik Ahmed. Dalam diam, Asma merindukan sosok itu. Setiap kali menaiki bus menuju kampus dan melintasi gurun, pikirannya melayang. Wajah itu, senyum itu, mata itu, semuanya membekas di hatinya.
Suatu sore, saat Asma berdiri menunggu bus di halte kecil, sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya. Jendela terbuka dan muncul wajah yang selama ini ia rindukan.
“Masuklah, Nona Asma. Aku kebetulan hendak ke Ariana.”
Dengan gugup, Asma masuk dan duduk di sampingnya.
“Terima kasih sudah menjemput. Saya merasa merepotkan.”
Sidi Mansour tersenyum. “Tidak sama sekali. Aku justru senang bisa bertemu lagi.”
Mobil melaju melewati hamparan padang dan toko-toko kecil. Sesampainya di rumah, Sidi Mansour menyerahkan contoh kain baru untuk dikelola oleh Ahmed.
“Tolong bantu ayahmu dalam urusan administrasi ya,” katanya kepada Asma. Senyum Asma membuat jantung Sidi Mansour berdegup lebih cepat.
Sebelum berpamitan, ia bertanya, “Apakah di rumah ini ada kamar kosong? Mungkin malam ini aku akan menginap di Ariana.”
Asma menjawab dengan hati yang bergetar, “Akan saya siapkan kamar tamu untuk Tuan.”
Malam itu terasa berbeda. Ada getar yang tak bisa dijelaskan. Suasana menjadi hangat dan penuh harapan.
Keesokan harinya, Sidi Mansour mengajak Ahmed dan Asma menghadiri presentasi dagang.
“Aku ingin mengenalkan sistem bisnis baru. Akan sangat baik bila Asma ikut memperhatikan dan membantu administrasinya.”
Asma menjawab pelan. “Baik, Tuan. Saya akan membantu.”
Hari-hari berikutnya mereka semakin dekat. Tawa mulai terdengar ringan di antara percakapan. Tatapan mereka sering bersilang, lalu cepat menghindar. Namun perasaan itu sudah tak bisa disembunyikan lagi.
Di antara kebersamaan, diam-diam cinta tumbuh. Tak terbendung. Tak perlu diucapkan dengan kata-kata.
Begitulah cinta. Ia datang diam-diam, tumbuh dalam kebisuan, dan menggenggam hati dengan lembut namun kuat. Kadang ia manis, kadang menyakitkan. Tapi selalu terasa hidup.
Dan bagi Asma dan Sidi Mansour, mereka tahu bahwa perjalanan ini baru saja dimulai.




