Drama

Surat yang Datang Bersamaan dengan Kabar Bahagia

Matahari mulai condong ke barat ketika Mira berdiri di teras rumahnya. Pandangannya mengikuti jalan desa yang perlahan lengang. Anak-anak yang sejak sore bermain di lapangan sudah pulang, sementara suara ayam yang saling bersahutan mulai terdengar dari halaman rumah warga.

Di rumah sebelah, Mariatun memerhatikan putrinya dari balik jendela. Sejak siang tadi Mira lebih banyak diam. Wajahnya pucat, matanya sembap, tetapi ia terus berusaha terlihat baik-baik saja.

Seorang ibu tak membutuhkan penjelasan panjang untuk mengetahui bahwa anaknya sedang memikul beban.

Mariatun melangkah pelan menuju rumah Mira.

Begitu pintu kamar dibuka, ia melihat putrinya duduk di tepi ranjang sambil menggenggam selembar surat yang sudah kusut karena diremas berkali-kali.

“Mira…”

Suara itu membuat Mira menoleh. Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya jatuh lagi.

“Ibu…”

Mariatun duduk di sampingnya tanpa banyak bertanya. Ia membiarkan Mira menenangkan diri lebih dahulu.

Beberapa saat kemudian, Mira menyerahkan surat itu dengan tangan gemetar.

“Aku menemukannya di meja dapur.”

Mariatun membaca isinya perlahan.

Tulisan tangan seseorang bernama Melani memenuhi hampir seluruh halaman.

Mas, pulanglah. Sulastri akan segera melahirkan. Kami menunggumu.

Kalimatnya singkat.

Namun cukup untuk membuat dada siapa pun terasa sesak.

Mariatun melipat kembali surat itu, lalu mengembalikannya kepada Mira.

“Kamu sudah bertanya kepada Marwoto?”

Mira menggeleng.

“Aku takut mendengar jawabannya.”

Suasana kembali hening.

Di atas meja rias masih tergeletak map berwarna cokelat yang baru dibawa Mira dari klinik dokter Bambang di Pedurungan. Di dalamnya tersimpan hasil pemeriksaan yang seharusnya menjadi kabar paling membahagiakan bagi keluarga kecil mereka.

Dengan perlahan, Mira mengambil map itu.

“Ibu…”

Tangannya mengusap perut yang masih rata.

“Aku hamil.”

Ucapan itu membuat wajah Mariatun berubah. Kekhawatiran yang sejak tadi memenuhi pikirannya berganti menjadi haru.

“Alhamdulillah.”

Beliau langsung memeluk putrinya.

“Ini kabar yang sangat baik.”

Mira justru kembali menangis.

“Harusnya aku bahagia, Bu.”

“Kamu memang boleh bahagia.”

“Tapi surat ini terus terbayang.”

Mariatun mengusap punggung Mira perlahan.

“Nduk, jangan biarkan prasangka mengambil keputusan sebelum kamu menemukan kenyataannya.”

Mira menatap ibunya.

“Kalau surat itu benar?”

“Kalau benar, waktunya akan datang.”

“Kalau tidak?”

“Kamu akan menyesal jika terburu-buru menuduh orang yang tidak bersalah.”

Ucapan itu membuat Mira terdiam cukup lama.

Mariatun kemudian menunjuk map hasil pemeriksaan.

“Besok tunjukkan kabar kehamilanmu kepada Marwoto.”

“Setelah itu?”

“Perhatikan reaksinya.”

“Ibu ingin aku diam saja?”

“Bukan diam.”

Mariatun tersenyum tipis.

“Ibu ingin kamu melihat dengan kepala dingin.”

Mira menarik napas pelan sebelum mengangguk.

“Aku akan mencoba.”

“Itu baru anak ibu.”


Menjelang pukul lima sore, suara motor memasuki halaman rumah.

Mira segera mencuci wajah, merapikan rambut, lalu mengambil map hasil pemeriksaan.

Saat pintu terbuka, Marwoto datang dengan senyum lebar seperti biasa.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

Marwoto melepas helmnya.

“Wah, harum sekali. Masak apa hari ini?”

Mira hanya tersenyum.

“Sebelum makan, aku punya sesuatu.”

Ia menyerahkan map berwarna cokelat itu.

Marwoto membukanya tanpa curiga.

Beberapa detik kemudian matanya membulat.

Tangannya sedikit bergetar ketika membaca hasil pemeriksaan hingga selesai.

“Mira…”

Ia mendongak.

“Ini benar?”

Mira mengangguk pelan.

“Iya.”

Seketika senyum Marwoto mengembang lebar.

“Alhamdulillah.”

Ia berdiri begitu cepat hingga kursi yang didudukinya bergeser.

“Kita akan punya anak.”

Marwoto memeluk Mira erat.

Pelukan itu dipenuhi rasa syukur yang sulit disembunyikan.

“Terima kasih.”

Bisiknya lirih.

“Aku sudah lama menunggu kabar ini.”

Mira membalas pelukan suaminya, tetapi pikirannya masih dipenuhi tanda tanya.

Apakah kebahagiaan di depan matanya benar-benar tulus?

Ataukah ada sesuatu yang belum ia ketahui?

Malam itu mereka makan bersama sambil membicarakan banyak hal.

Marwoto mulai menghitung kebutuhan bayi, membayangkan kamar kecil yang akan diubah menjadi ruang anak, bahkan berseloroh soal siapa yang kelak lebih mirip dengannya.

Mira ikut tersenyum.

Ia ingin menikmati kebahagiaan itu.

Setidaknya malam ini.

Surat dari Melani tetap tersimpan rapi di dalam laci kamar.

Belum saatnya dibicarakan.

Mira memilih menunggu sampai pikirannya benar-benar tenang.

Ia berharap semua kegelisahan yang sejak siang memenuhi dadanya hanyalah sebuah kesalahpahaman.

Karena jika memang demikian, tidak ada alasan membiarkan prasangka merusak keluarga yang sedang menantikan kehadiran anggota baru.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close

Adblock Detected

Support Kami Dengan Mematikan Adblock