Masa Tua
Pagi itu, udara Kalongan, Ungaran, masih menyisakan embun yang perlahan menguap disapu hangatnya matahari. Nunung memacu langkahnya lebih lambat, napasnya sedikit memburu setelah menuntaskan rutinitas joging pagi. Rasa haus mulai merambat di tenggorokan, memaksanya untuk menepi saat matanya menangkap siluet sebuah warung kecil di pinggir jalan.
Warung itu sederhana sekali, bahkan tanpa papan nama. Hanya deretan stoples berisi camilan, tahu isi yang masih hangat, mendoan yang menggoda selera, dan perkedel jagung yang tertata rapi di atas nampan.
“Silakan, Bu. Mari mampir,” sapa sang pemilik warung dengan senyum ramah yang tulus.
Nunung mengangguk, lalu memesan segelas teh hangat. Ia butuh sesuatu yang mampu memicu keringatnya keluar lebih deras. Sang pemilik, Ibu Ngatinem, dengan cekatan menyibukkan diri di depan penggorengan sambil sesekali melirik Nunung yang mulai menikmati perkedel jagung.
“Bu, kenapa pilih berjualan seperti ini?” tanya Nunung di sela kunyahannya.
Ibu Ngatinem tersenyum tipis, matanya menerawang jauh. “Ini sekadar pengisi hari-hari sepi saja, Bu,” jawabnya lembut.
Nunung mengedarkan pandangan ke sekeliling. Di usia enam puluh delapan tahun, Ibu Ngatinem memang tak terlihat sedang mengejar untung. Ketiga anaknya sudah mapan; yang sulung tinggal tepat di sebelah rumah, yang kedua di belakang, dan si bungsu yang baru saja menikah tinggal bersamanya. Semua sudah berkeluarga, meski si bungsu belum dikaruniai momongan. Warung ini hanyalah pelabuhan kecil bagi Ibu Ngatinem untuk menyapa tetangga yang lewat atau sekadar menghalau jemu.
Tiba-tiba, suara lantunan salawat terdengar sayup-sayup, mendekat seiring langkah kaki yang tertatih namun pasti. Seorang pria tua dengan peci putih muncul dari arah masjid di pojokan kampung.
“Nah, itu suami saya, Pak Suhadi,” ujar Ibu Ngatinem seraya menyambut uluran tangan suaminya. “Usianya sudah delapan puluh enam tahun. Beliau takmir masjid. Kami menghabiskan masa tua dengan cara begini.”
Nunung memberi hormat dengan senyum takzim. Ia merasakan kepedihan yang samar saat menceritakan kisahnya sendiri, tentang bagaimana kini ia harus menjalani hari-hari seorang diri setelah sang suami berpulang akibat paparan Covid-19 beberapa waktu lalu. Ibu Ngatinem mendengarkan dengan penuh empati, tangannya sesekali mengusap dada, ikut merasakan kedukaan yang ditinggalkan.
“Tunggu dulu,” Ibu Ngatinem tampak terperangah. “Berarti Ibu tinggal di depan perumahan itu? Kita ini tetangga, ya?”
Nunung tertawa pelan. “Iya, Bu. Saya sebenarnya sempat ragu mampir tadi. Kalau Ibu tidak memanggil, mungkin saya sudah terus berlari.”
Ternyata, dunia ini memang sempit. Warung kecil ini pulalah yang selama ini menjadi tempat singgah para satpam perumahan tempat Nunung tinggal.
Tak lama, sepasang lansia lain datang. Dengan langkah mantap yang dibantu tongkat kayu, mereka menyapa akrab, lalu memesan teh hangat dan mendoan. Mereka adalah langganan tetap di sini, tempat mereka mengisi energi sebelum menaklukkan jalanan menurun yang menantang di desa tersebut.
Di Kalongan, hidup terasa lebih melambat. Jalanan yang tidak terlalu lebar dan sepi kendaraan membuat para lansia leluasa menikmati pagi. Panorama pedesaan di Kabupaten Semarang ini memang magis; naik-turun bukit dengan udara yang masih murni. Orang-orang di sini sadar betul bahwa menjaga kesehatan di masa tua adalah investasi paling berharga, entah dengan lari kecil atau sekadar jalan santai.
“Mau coba sayur oblok-oblok?” tawar Ibu Ngatinem memecah lamunan Nunung. “Ada daun ketela, tempe, dan ikan asin. Disiram kuah santan, rasanya gurih.”
Nunung mengiyakan dengan antusias. Ia memesannya untuk makan siang nanti, membayangkan bagaimana kuah santan yang meresap ke dalam daun ketela empuk itu akan memanjakan lidahnya.
Begitulah kehidupan di Kalongan. Di balik gempita para pekerja muda yang setiap hari harus berjibaku dengan debu dan hiruk-pikuk kota Semarang, para lansia di sini justru menemukan kedamaian. Mereka memilih untuk merawat kerukunan, menikmati udara segar yang tak menyengat, dan mensyukuri setiap helaan napas di sisa usia yang tenang.




