Perahu Getek Sungai Musi
Galih mendayung perahu dengan pelan untuk mengambil penumpang dan menghidupkan jenset agar perahu geteknya lebih laju
Galih membawa mereka untuk menyeberang sambil membawa kendaraan bermotor yang ada dua buah . Mereka semua pekerja buruh pemetik kelapa sawit .
Tiba-tiba saja air sungai berombak , kontan Galih lebih cepat menaikkan gas agar lekas sampai ke seberang . Penumpang ketar-ketir semua dan ingin lekas sampai ke seberang . Air sungai yang bergelombang mendorong perahu mwelawan arus sehingga penumpang ikut membantu Galih biar lekas sammpai kesebrang . Akhirnya mereka sampai ke sebrang dengan selamat dengan sepeda motornya aman , motor dinaikkan ke tepi sungai bersama pemiliknya .Galih mengikat perahunya sekencang mungkin agar perah tak lepas dan hanyut .
Nampak seorang wanita begitu takut menyaksikan air yang pasang , yaaah cuaca yang ekstrem telah berjalan sejak seminggu ini. Wanita itu seorang guru yang berjalan agak takut karena membawa bawaan yang cukup banyak . Dia bergegas membawa peralatannya dan tas cangklong dikempinya pula, dia agak takut untuk menapakkan kaki ke pinggiran perahu karena takut basah buku-bukunya dan Galih membantunya agar wanita itu aman .
Ketika guru itu turun ternyata dia sudah ditunggu oleh rekan rekan kerjanya yang sudah siap dengan motornya . Galih tersenyum sambil menerima uang geteknya.
Marliyah : ” Terima kasih bang Galih ….”
Galih ; ” Sama-sama bu guru…..hati-hati….selamat mengajar dan itu sudah ditunggu ….” Galih menunjukkan guru yang sudah menunggu Marliyah .
Tatapan mata Galih kosong dan dia beristirahat sambil menunggu penyeberang , hatinya masih mengarah kepada Marliyah guru yang mengajar di Sawit 2 yang ternyata sudah ada pemiliknya tapi Galih masih ragu karena mereka masih tinggal berjauhan .
Marliyah guru baru dari Jawa yag ditempatkan di Sawit 2 Palembang , merantau memang sudah tepatnya karena di Jawa banyak pengangguran , untung saja dia lolos test CPNS dan ditempatkan di Palembang .
Perjalanan menuju sekolah masih berkisar setengah jam, untung saja Marliyah sudah mendapatkan tempat yang dekat dengan sekolahan Sawet2 atas bantuan Sayet guru kelas lima .
Jalan masih banyak yang berlobang dan terpaksa motor harus di tuntun motor dinasnya .
Sayet : ” Masih adakah yang tertinggal disana bu Marliyah …..? ” tanya Sayet
Marliyah : ” Sudah..sudah habis, terima kasih pak Sayet sudah membantu antar jemput kepindahan saya..” jawab Marliyah sedikit malu karena dia tak ada ongkos untuk mengganti bensin motornya dan hanya memberikan ucapan terima kasih saja .
Sayit : ” Sama-sama bu, saya dulu malah yang membantu malah pak kepala sekolah …..karena beliau penduduk Palembang dan aslinya di desa Oki “
Marliyah segera bersiap-siap karena sebentar lagi bel berbunyi , tak lupa Marliyah mewarnai bibirnya supaya tampak lebih segar ketika mengajar sementara pak Sayet sudah berada di sekolah dan berbaur dengan guru-guru lainnya .
Ruangan Marliyah yang ditempati belum semuanya dirapikan karena bel sudah berbunyi dan Marliyah harus segera ke sekolah, kepindahan Marliyah dari Jawa masuk ke Palembang dan di tempatkan di daerah yang dikelilingi pohon sawit sebagai hasil usaha perusahaan yang dikelola oleh penduduk setempat.
Marliyah : ” Selamat pagi anak-anak ,baiklah ibu absen dulu siapa yang hadir hari ini ” .
Pintu diketuk yang ternyata ada murid yang datang terlambat masuk dan Marliyah mempersilahkan duduk muridnya tersebut .
Marliyah : ” Baik , siapa yang belum ibu panggil ……? Dan yang terlambat mengangkat tangannya .
Marliyah : ” Kamu siapa namanya…….? ” sepertinya ibu tak ada yang terlewatkan …ohhh…kamu murid baru ya…. coba surat yang ada di dalam tas berikan kepada ibu….” Marliyah mulai membaca surat keterangan dari sekolah lain .
Marliyah : ” Anak-anak perkenalkan Farida adalah murid baru di kelas enam ini , tolong Farida kamu berdiri sebentar di depan untuk memperkenalkan diri sebentar ….” Farida cukup panik tapi Marliyah menggandengnya agar Farida tenang sambil memberikan semangat agar murid-muridnya memperhatikan Farida . Dengan bantuan Marliyah akhirnya Farida selesai memberikan keterangan tentang asal sekolahnya yang habis muridnya karena belum ada kelas enamnya . Dan Farida yang berhasil melanjutkan sekolahnya ke kelas enam dan pindah dari sekolah yang lama meskipun harus diantar pakai sepeda dan berjalan lagi cukup jauh karena jalannya jelek apalagi disaat musim hujan. Marliyah guru kelas enam dan harus bisa memberikan masukan demi kelanjutaan siswa-siswanya yang merupakan pindahan dari sekolah -sekolah lainnya yang belum banyak muridnya dan ditampung di SD Sawit 2 yang sekarang muridnya bertambah menjadi 15 orang . Marliyah sangat bersyukur sekali karena ini adalah sekolah tampungan dan sebentar lagi masih ada tambahan dari sekolah lain yang sudah mendaftar ulang di sekolah Sawit 2.
Galih menunggu kehadiran Marliyah untuk menumpang geteknya , tapi yang ditunggu tak kunjung datang dan penumpang meminta segera diberangkan karena sudah sarat penumpang . Akhirnya galih meninggalkan bu guru Marliyah , sedih perasaannya karena sudah dua minggu bu Marliyah tak naik geteknya . Galih menunggu terus kehadiran maupun kepulangan bu Marliyah . Datang serombongan guru yang akan menaiki perahu getek Galih seberkas sinar terpancar di muka Galih adakah Marliyah bersama mereka…? ternyata Marliyah tidak ada perasaan Galih sangat sedih sekali .
Galih mendapat info dari penumpang yang sesama guru kalau Marliyah liburan akan pulang ke Jawa , Marliyah akan menikah dengan sesama guru yang bertugas di Palembang . Hati Galih sedih sekali mendengarnya karena membicarakan Sayet calon suami Marliyah yang selalu menjemput maupun mengantar Marliyah dan dia berasal dari Jawa juga Sayet berasal dari kediri sedangkan Marliyah berasal dari Jombang satu profinsi di Jawa Timur.
Air mata Galih menetes tak tahan meratapi kepiluannya , Galih menatap ke depan mengarahkan perahu geteknya sambil mengusap air matanya yang mulai mengering sendiri .
Jodoh tak bisa dimengerti kapan dan dimana datangnya dan Galih menerima akan petuah tersebut.




