PETAKA SI KLIWON
Suhadi dikenal sebagai peternak sapi perah yang tekun di desanya. Berawal dari sepuluh ekor sapi, kini peternakannya berkembang menjadi empat belas ekor berkat kerja keras selama bertahun-tahun. Baginya, sapi bukan sekadar ternak, melainkan investasi yang menopang kehidupan keluarganya.
Setiap hari, Suhadi memastikan semua sapinya mendapat pakan berkualitas, air yang cukup, serta vitamin agar tetap sehat. Hasilnya, sapi-sapinya tumbuh besar dan mampu menghasilkan susu murni yang disukai banyak pelanggan. Sebagian susu diolah sendiri oleh Suhadi, sementara sebagian lagi dijual dalam keadaan segar kepada pelanggan yang datang langsung ke kandang setiap pagi.
Dalam mengelola peternakan, Suhadi dibantu oleh seorang pekerja setia bernama Markuat. Istrinya, Maya, juga selalu membantu menyiapkan wadah susu, mencatat pesanan, hingga melayani pelanggan. Meski telah menikah selama tiga tahun dan belum dikaruniai anak, mereka tetap menjalani hidup dengan penuh rasa syukur.
Pagi itu suasana peternakan berjalan seperti biasa.
Markuat berangkat lebih awal mencari rumput segar di pinggir hutan. Sebelum pergi, ia mengingatkan bahwa beberapa pelanggan akan datang sekitar pukul sembilan pagi untuk mengambil susu.
Sementara itu, Maya menyiapkan wadah-wadah stainless yang telah disterilkan. Suhadi mulai memerah sapi satu per satu setelah memastikan semuanya selesai makan dan beristirahat beberapa saat.
Semua berjalan lancar hingga giliran seekor sapi bernama Kliwon.
Kliwon merupakan sapi terbesar di peternakan itu. Meski biasanya jinak, pagi itu tingkahnya berbeda. Ia terus mendengus, berjalan mondar-mandir di dalam kandang, dan berkali-kali mengibaskan ekornya.
Melihat gelagat tersebut, Suhadi memilih memerah sapi lain terlebih dahulu.
“Aneh sekali. Biasanya Kliwon tenang,” gumamnya.
Ia memeriksa sekitar kandang, khawatir ada hewan liar yang membuat sapi itu gelisah. Namun semuanya tampak aman.
Tak lama kemudian beberapa pelanggan datang mengambil pesanan mereka. Maya melayani mereka satu per satu hingga hanya tersisa seorang pelanggan yang memang sengaja menunggu susu dari Kliwon.
Suhadi kembali mendekati sapinya dengan tenang. Ia mengusap leher dan kepalanya sambil berbicara pelan agar Kliwon merasa nyaman.
Sesaat kemudian Markuat masih belum kembali.
Merasa keadaan mulai tenang, Suhadi mencoba duduk di samping Kliwon untuk mulai memerah susu.
Namun tanpa diduga, suara musik yang diputar Maya dari teras rumah membuat Kliwon kembali terkejut. Pada saat yang hampir bersamaan, seekor burung terbang rendah melintas di dekat kandang.
Kliwon mendadak panik.
Sapi itu menendang ke belakang dengan keras.
Suhadi yang berada di posisi paling dekat kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai kandang. Dalam kepanikan, Kliwon terus bergerak ke sana kemari sehingga Suhadi beberapa kali terkena benturan sebelum berhasil menjauh.
Maya menjerit melihat suaminya terjatuh.
Untungnya, Markuat datang tepat waktu sambil membawa rumput. Dengan sigap ia mengalihkan perhatian Kliwon menggunakan tali penuntun dan menenangkan sapi tersebut hingga akhirnya dapat dimasukkan ke kandang terpisah.
Setelah keadaan aman, Markuat dan Maya segera menolong Suhadi.
Wajah Suhadi mengalami luka akibat benturan dan beberapa giginya patah. Pergelangan tangan serta kakinya juga terasa sangat nyeri sehingga sulit digerakkan.
“Apa Bapak bisa mendengar saya?” tanya Maya dengan suara bergetar.
Suhadi hanya mengangguk pelan sambil menahan sakit.
Maya segera menghubungi ambulans. Tak lama kemudian petugas medis datang dan membawa Suhadi ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan.
Di peternakan, Markuat membersihkan kandang yang berantakan sambil terus memikirkan kejadian tadi. Setelah berkonsultasi dengan dokter hewan, barulah diketahui bahwa Kliwon sedang berada dalam masa yang membuatnya lebih mudah stres dan sensitif terhadap gangguan. Dalam kondisi seperti itu, sapi seharusnya dipisahkan sementara agar tidak membahayakan siapa pun.
Mendengar penjelasan tersebut, Markuat merasa bersalah karena tidak sempat mengingatkan Suhadi sebelum berangkat mencari rumput.
Namun Maya tidak menyalahkannya.
“Ini musibah. Yang penting sekarang Mas Suhadi segera pulih,” katanya.
Selama beberapa hari Suhadi menjalani perawatan di rumah sakit. Rahangnya harus ditangani, beberapa gigi memerlukan perawatan lanjutan, sementara cedera pada kaki dan tangannya membutuhkan waktu untuk sembuh.
Selama Suhadi dirawat, Markuat mengajak adiknya, Martani, membantu mengurus peternakan. Mereka bekerja sejak pagi hingga sore agar pasokan susu kepada pelanggan tetap berjalan.
Maya pun membagi waktunya antara menjaga suaminya di rumah sakit dan mengawasi peternakan.
Sebulan kemudian Suhadi akhirnya diizinkan pulang.
Meski masih belum bisa bekerja seperti biasa, kondisinya jauh lebih baik. Ia menjalani terapi dan latihan ringan agar kaki serta tangannya kembali kuat.
Setiap pagi Suhadi duduk di teras rumah memperhatikan Markuat dan Martani bekerja mengurus sapi-sapinya.
Sesekali ia tersenyum.
Musibah itu memberinya pelajaran berharga bahwa hewan, sekalipun jinak dan telah lama dipelihara, tetap memiliki naluri alami yang harus dipahami. Mengenali perubahan perilaku hewan dan mengutamakan keselamatan saat bekerja menjadi hal yang tidak boleh diabaikan.
Sejak hari itu, setiap sapi yang menunjukkan tanda-tanda gelisah atau sensitif selalu dipindahkan ke kandang terpisah terlebih dahulu sebelum ditangani.
Bagi Suhadi, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kehati-hatian adalah bagian terpenting dalam setiap pekerjaan, terutama ketika berhadapan dengan hewan bertubuh besar.




