Lela Majenun
Lela tidak pernah menyangka bahwa pernikahan yang selama lima tahun dijalaninya akan berakhir dengan penderitaan seperti itu.
Selama ini ia percaya Ardan adalah suami yang mencintainya. Mereka memang belum dikaruniai anak, tetapi Lela masih berusaha mempertahankan rumah tangga mereka. Ia bahkan ingin kembali bekerja di kantor asuransi tempatnya dulu bekerja agar dapat membantu memperbaiki keadaan ekonomi keluarga.
Namun Ardan melarangnya.
Bukan karena ingin melindungi Lela, melainkan karena Ardan sudah memiliki perempuan lain.
Perempuan itu bernama Siska, bekas kekasih Ardan.
Pada awalnya Lela hanya mengetahui bahwa Ardan sering pulang terlambat. Lama-kelamaan, Ardan bahkan berani membawa Siska ke rumah mereka.
Lela merasa hancur.
“Kalau kamu memang masih mencintai Siska, kenapa kamu menikah denganku?” tanya Lela suatu malam.
Ardan tidak menjawab.
Ia justru mengatakan sesuatu yang membuat hati Lela semakin sakit.
“Aku ingin kamu menerima Siska. Kalau perlu, dia menjadi madumu.”
Lela menatap suaminya dengan tidak percaya.
“Rumah tangga kita saja belum kokoh. Kenapa kamu malah membawa perempuan lain ke dalam rumah ini?”
Ardan tetap bersikeras.
Lela menolak. Ia tidak sanggup menerima kenyataan bahwa suaminya sendiri ingin membagi kehidupan mereka dengan perempuan lain.
Sejak saat itu pertengkaran mereka semakin sering terjadi.
Lela menangis hampir setiap hari. Tekanan batinnya semakin berat karena Ardan tidak hanya berselingkuh, tetapi juga terus menyalahkannya.
Ardan kemudian melakukan sesuatu yang jauh lebih kejam.
Ia memberikan obat yang membuat tubuh Lela menjadi lemas dan pikirannya kacau. Setiap kali datang ke rumah sakit atau berada di dekat Lela, Ardan membawa bubuk obat dan mengatakan bahwa obat tersebut berasal dari dokter.
Tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Lela meminumnya.
Akibatnya, tubuhnya sering menjadi lemas. Bahkan setelah dua jam, ia baru bisa berdiri dengan tegak. Mulutnya pun sering bergerak sendiri. Ia berteriak, menangis, dan memaki-maki Ardan tanpa mampu mengendalikan dirinya.
Keluarga Lela awalnya tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Mereka hanya mendengar kabar bahwa Lela mengalami gangguan jiwa dan telah dimasukkan ke rumah sakit jiwa oleh suaminya sendiri.
Kabar itu membuat keluarga Lela terkejut.
Lebih buruk lagi, Ardan meminta agar Lela tidak dijenguk karena dianggap berbahaya.
Rukayah, adik Lela, tidak percaya begitu saja.
“Bagaimana mungkin kami tidak boleh melihat kakakku sendiri?” katanya dengan marah.
Rukayah kemudian menghubungi pihak rumah sakit dan meminta izin untuk menjenguk Lela. Ia ingin melihat sendiri keadaan kakaknya dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah melalui pembicaraan dengan pihak rumah sakit, Rukayah akhirnya diperbolehkan menjenguk, tetapi harus berhati-hati.
Pada hari yang ditentukan, Rukayah datang bersama seorang teman yang berprofesi sebagai dokter.
Lela sedang duduk sendirian ketika mereka datang.
Begitu melihat Rukayah, Lela tersenyum.
“Kamu datang?”
Rukayah langsung memeluk kakaknya.
“Iya, Kak. Aku datang.”
Lela tersenyum lagi, tetapi matanya justru berkaca-kaca.
“Ardan mana?”
Rukayah terdiam sejenak.
“Ardan sedang tidak ada.”
Lela tiba-tiba tertawa kecil. Namun beberapa detik kemudian tawanya berubah menjadi tangisan.
Rukayah semakin bingung.
“Apa sebenarnya yang terjadi padamu, Kak?”
Lela menatap adiknya.
“Dia menipuku.”
“Siapa?”
“Ardan.”
“Aku sudah tahu tentang Siska dari Mama. Tapi aku ingin mendengar langsung dari Kakak. Sebenarnya apa yang dilakukan Ardan?”
Lela kembali menangis.
“Aku dicekoki obat.”
Rukayah terkejut.
“Obat?”
Lela mengangguk.
“Setelah minum obat itu, tubuhku menjadi lemas. Kadang sampai dua jam aku baru bisa berdiri dengan tegak.”
Tangannya terus bergerak tanpa arah.
“Mulutku juga tidak bisa diam. Aku terus menghujat Ardan seperti burung beo. Aku tahu aku sedang bicara, tetapi aku tidak bisa menghentikannya.”
Rukayah memegang tangan kakaknya.
“Tenang, Kak. Dokter akan memeriksa Kakak.”
Teman Rukayah yang sejak tadi memperhatikan keadaan Lela kemudian memeriksa kondisi Lela dengan hati-hati.
Setelah pemeriksaan, ia berbicara kepada Rukayah.
“Gejalanya memang berkaitan dengan kondisi saraf dan efek obat yang dikonsumsinya. Untuk sementara saya akan membantu dengan obat yang sesuai. Tapi kita juga harus mencari tahu obat apa yang sebenarnya diberikan kepadanya.”
Rukayah mengangguk.
Saat itulah ia semakin yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Ia mulai mempertanyakan semua cerita yang selama ini disampaikan Ardan kepada keluarga.
Mengapa Lela bisa mengalami keadaan seperti itu?
Mengapa Ardan begitu keras melarang keluarga menjenguknya?
Dan mengapa hanya Ardan yang selama ini memberikan obat kepada Lela?
Rukayah meminta pihak rumah sakit mengawasi setiap obat yang diberikan Ardan kepada kakaknya.
Ia juga meminta agar Ardan tidak diperbolehkan memberikan obat apa pun kepada Lela tanpa pemeriksaan pihak rumah sakit.
Namun sebelum semua itu terungkap, sebuah kejadian lain terjadi.
Selama tiga hari Ardan tidak datang menjenguk Lela.
Bukan karena ia tiba-tiba peduli terhadap istrinya.
Ardan mengalami kecelakaan.
Saat itu Ardan berada di rumah Siska. Mereka baru saja akan sarapan ketika seorang laki-laki asing masuk ke halaman rumah.
Siska panik.
“Siapa orang itu?”
Ardan segera keluar untuk melihat.
Ternyata laki-laki tersebut adalah pencuri yang ketahuan hendak melarikan diri.
Pencuri itu berusaha kabur dengan sepeda motor yang terparkir di halaman.
Namun ketika berusaha melarikan diri, ia menabrak Ardan.
Tubuh Ardan terpental dan kepalanya terbentur keras. Sepeda motor itu kemudian jatuh menimpa tubuhnya.
Ardan tidak sadarkan diri.
Siska menjerit meminta pertolongan.
“Tolong! Tolong!”
Namun tidak ada tetangga yang datang.
Siska semakin panik.
Ia berlari ke rumah sebelah, tetapi tidak mendapatkan bantuan.
Bukan karena tidak ada yang mendengar.
Para tetangga sebenarnya sudah mengetahui hubungan Ardan dengan Siska.
Mereka juga mengetahui bahwa Lela telah dimasukkan ke rumah sakit jiwa oleh Ardan.
Selama ini Ardan berusaha membuat orang-orang percaya bahwa Lela benar-benar mengalami gangguan jiwa. Namun para tetangga justru melihat banyak kejanggalan.
Mereka tahu bahwa Ardan sering membawa Siska ke rumahnya.
Karena itu, ketika Siska berteriak meminta pertolongan, tidak banyak orang yang percaya kepadanya.
Sementara itu, keadaan Ardan semakin parah.
Ia akhirnya dibawa untuk mendapatkan pertolongan medis.
Kecelakaan tersebut membuat Ardan tidak bisa lagi mengurus Lela.
Di saat yang sama, laporan Rukayah mulai menemukan titik terang.
Rukayah bersama keluarganya mengumpulkan bukti mengenai obat yang diberikan Ardan kepada Lela. Mereka juga meminta keterangan dari pihak rumah sakit.
Dari situlah mulai terungkap bahwa Ardan memang selama ini memberikan obat kepada Lela dengan alasan obat tersebut berasal dari dokter.
Padahal tidak demikian.
Ardan sengaja memberikan obat itu agar kondisi Lela semakin buruk.
Tujuannya jelas.
Ia ingin membuat keluarga Lela percaya bahwa istrinya benar-benar mengalami gangguan jiwa sehingga tidak ada yang mempertanyakan perselingkuhannya dengan Siska.
Namun rencana itu akhirnya terbongkar.
Setelah kondisi Lela membaik, pihak rumah sakit memastikan bahwa Lela tidak perlu lagi dirawat di sana.
Lela kemudian dibawa pulang ke rumah orang tuanya.
Ayah dan ibu Lela yang masih sehat tidak tinggal diam. Dengan bantuan kerabat mereka, bukti-bukti mengenai perbuatan Ardan dikumpulkan dan diserahkan kepada pihak berwajib.
Polisi kemudian melakukan penyelidikan.
Tidak lama kemudian, rumah Ardan didatangi petugas.
Di tempat itu, polisi menemukan Ardan dan Siska.
Hubungan keduanya semakin memperkuat kecurigaan bahwa selama ini Ardan memang telah menjalin hubungan dengan Siska.
Masalah mereka semakin berat karena Siska ternyata tidak memiliki hubungan pernikahan yang sah dengan Ardan.
Keduanya akhirnya diamankan untuk menjalani proses hukum.
Siska pun mulai dijauhi masyarakat.
Ia tidak lagi berani mengikuti kegiatan di kampung karena orang-orang sudah mengetahui bahwa dirinya merupakan perempuan yang ikut menghancurkan rumah tangga Lela.
Sementara itu, Lela perlahan kembali pulih.
Setelah kesehatannya membaik, ia memutuskan untuk kembali bekerja di kantor asuransi tempatnya dulu bekerja.
Ironisnya, Ardan juga bekerja di kantor yang sama.
Selama beberapa waktu Lela berusaha bersikap tenang.
Ia tidak ingin lagi hidup dalam ketakutan.
Namun suatu hari ia kembali mengetahui bahwa Ardan masih berhubungan dengan Siska.
Lela akhirnya meminta Ardan mengambil keputusan.
“Kamu harus memilih.”
Ardan terdiam.
“Aku sudah terlalu lama menunggu kamu menentukan siapa yang sebenarnya kamu inginkan.”
Lela menatap suaminya dengan mata yang tidak lagi dipenuhi tangisan.
“Aku pernah mencintaimu sampai aku kehilangan diriku sendiri. Aku pernah mempertahankan rumah tangga ini meskipun kamu terus menyakitiku.”
Ia menarik napas panjang.
“Tapi aku tidak mau mengulanginya lagi.”
Ardan tetap diam.
Lela kemudian berkata dengan tenang,
“Kalau kamu memilih Siska, pergilah kepadanya. Kalau kamu ingin mempertahankan rumah tangga ini, buktikan bahwa aku memang masih menjadi istrimu. Aku tidak mau lagi hidup sebagai perempuan yang harus berbagi suami dengan orang lain.”
Untuk pertama kalinya, Lela tidak menangis.
Ia sudah cukup lama menjadi korban dari kebohongan orang yang paling ia cintai.
Kini ia hanya ingin satu hal.
Kepastian.
Sebab bagi Lela, rumah tangga bukan sekadar tinggal serumah atau memiliki status sebagai suami dan istri.
Rumah tangga adalah tentang kesetiaan.
Dan ketika kesetiaan sudah tidak ada, cinta sebesar apa pun tidak akan mampu membuat sebuah pernikahan tetap utuh.




