Kehidupan

Terjebak di Tengah Migrasi

Dulu waktu masih SMA di tahun 2015, aku adalah penggemar berat kuis-kuis kepribadian di internet. Kamu pasti tahu kan, jenis kuis yang menanyakan kepribadian kalau aku jadi superhero, kuis “Siapa dirimu kalau jadi anggota kelompok rahasia dunia”, atau kuis tentang zodiak mana yang jadi jodoh sejatiku. Nah, ada satu kuis tentang “Apa jenis air yang paling menggambarkan dirimu” yang lagi coba kuingat-ingat sekarang. Kedengarannya konyol memang, di usia dua puluh delapan tahun ini malah memikirkan kuis lawas, tapi kalau ponselmu mati sinyal dan mobilmu terjebak di tengah kawanan sapi liar yang sedang migrasi pindah padang rumput, kamu akan kaget betapa acaknya pikiran yang muncul di kepala.

Pas pertama kali terima tugas riset di pedalaman ini, aku sudah melakukan riset soal satwa di sini, layaknya ilmuwan yang harus tahu bidangku. Aku jago soal kadar garam dan suhu air, tapi jujur saja, aku buta total soal satwa liar yang berkeliaran di sini. Ternyata, kalau di sini yang bikin macet bukan cuma sapi, tapi ancaman babi hutan atau bahkan hewan buas yang katanya masih sering turun gunung. Bukannya takut, sih, tapi kamu harus lihat cerita-cerita orang lokal tentang turis yang pernah bertemu hewan liar di sini. Jadi, aku sempat antusias banget mencari tahu soal hewan-hewan itu. Tentu saja aku juga melihat foto-foto kawanan sapi liar itu dan kagum dengan tanduk mereka yang besar. Tapi, aku kurang membaca soal pola migrasi mereka. Aku tidak menyangka mereka bakal lewat dalam jumlah sebanyak ini, ratusan bahkan ribuan. Menurut rekan kerjaku, sepertinya aku baru saja terjebak di tengah rombongan besar yang memang biasa lewat kalau musim kering mulai parah.

“Kamu bercanda,” ujar Pak Broto saat aku meneleponnya lewat telepon satelit. “Tepat di jalanan?”

“Tepat di jalanan,” kataku. “Dan di sini tidak ada jalan pintas, Pak. Aku benar-benar terjebak.”

Dia tertawa. “Sial sekali nasibmu, Nak. Tapi kupikir kamu sudah terbiasa dengan kemacetan, kan dari Jakarta? Kudengar macet di sana parah sekali.”

“Pak Broto,” komplainku sambil menghindar refleks saat ada serangga raksasa menabrak kaca mobil. “Macet di lampu merah sama kawanan sapi yang menyeberang itu beda cerita!”

Aku bisa membayangkan dia sedang duduk santai di seberang sana. “Dan tetap sama saja. Dia cuma duduk diam di sana.”

“Sampai kapan?” tanyaku. “Kurasa sudah sepuluh menit berlalu!”

Tawanya meledak, suara berat yang terdengar geli. “Sepuluh menit? Oh, sayang. Santai saja. Kamu punya banyak waktu luang di sana. Nikmati saja pemandangan.”

“Tapi Bapak minta aku di sana jam sembilan! Aku bakal ketinggalan rapat pengarahan!”

“Untungnya aku yang memimpin rapatnya,” kata Pak Broto. “Dengar, Retno. Datang saja kalau bisa, oke? Sementara itu, santai saja dulu. Jangan coba-coba keluar mobil kalau tidak mau dikeroyok nyamuk rawa atau yang lebih parah. Aku akan kasih tahu apa saja yang terlewat di rapat pas kamu sampai nanti.”

Begitu saja, satu-satunya hiburan yang kupunya langsung menutup telepon. Untungnya, aku adalah orang yang sudah terlatih menghibur diri sendiri.

Pertama, aku menggeledah laci tengah mobil, berharap ada camilan yang terselip, tapi mobil rental ini ternyata benar-benar kosong. Aku membaca ulang surat perjanjian sewa mobil, lalu menantang diri sendiri membacanya dengan satu mata tertutup. Mata kiriku menang. Aku mulai bernyanyi keras, menyanyikan lagu-lagu hits lokal tahun 2015. Aku mengubah liriknya, menyanyi tentang gadis yang cuma ingin menyetir mobil tanpa menabrak sapi. Aku bahkan mencoba berlatih membentuk lidah jadi semanggi di depan kaca spion, tapi tidak berhasil. (Katanya sih ini soal genetik, tapi mungkin aku saja yang kurang niat). Akhirnya, aku menyandarkan kursi dan memandang kawanan sapi itu, membiarkan pandanganku kabur sampai bentuk-bentuk mereka melebur menjadi sungai cokelat yang mengalir deras, dengan tanduk yang menyembul seperti ranting pohon. Saat itulah aku merasa seperti kembali ke usia dua belas tahun, meraih dan terus meraih sesuatu yang tidak ada.

Aku menarik tuas kursi agar duduk tegak kembali, dan saat itulah ingatan tentang kuis-kuis iseng itu kembali.

Kebanyakan kuis itu mirip tes kepribadian versi ngaco, dan di sekolahku yang dulu, sepertinya cuma anak-anak perempuan yang hobi membagikan hasilnya. Anak-anak yang cocok jadi “Danau” itu tipe anak baik-baik, yang tidak pelit meminjamkan barang kalau kita butuh. Anak yang jadi “Kolam Renang” biasanya anak populer yang rajin dandan ke sekolah. Anak “Lautan” itu yang agak pemberontak, punya koleksi kartu ramalan dan sering nongkrong di parkiran. Dan kalau jadi “Sungai”? Sungai pastilah aku. Sesuatu yang tak terduga, bergerak cepat, dan selalu sendirian.

Bukannya aku tidak punya teman. Tapi karena aku anak tunggal, aku tidak punya pelindung dari anak-anak nakal dan tidak ada teman saat Ayah lembur. Jadi, aku punya teman imajinasi, seekor ikan bernama Sparkles. Aku terlalu lama memelihara imajinasi ini, bahkan sampai usia yang sudah tidak pantas lagi. Sparkles masih menemaniku memanjat kursi untuk mengambil sereal, duduk di sampingku saat aku makan malam sendirian. Sparkles menemaniku di meja saat makan siang, membisikkan kalau bekal roti isi yang dimakan anak-anak lain rasanya pasti membosankan. Mungkin karena keberadaan Sparkles inilah aku jadi tidak pernah ikut main bola atau permainan tepuk tangan dengan anak-anak perempuan lain. Tapi di kelas, aku tetap mengobrol dengan teman-teman. Beberapa pernah mengajakku main ke rumah mereka, tapi karena Ayah jarang ada di rumah untuk mengantar jemput, aku jadi malu. Aku tidak bisa bilang kalau aku tidak bisa pergi karena tidak ada orang dewasa di rumah. Mereka pasti bertanya di mana Ibu, pertanyaan yang jawabannya tidak pernah aku tahu, dan di mana Ayah. Bilang kalau Ayah punya pekerjaan yang sangat penting tentu tidak akan memuaskan rasa penasaran mereka, sama seperti tidak memuaskanku. Jadi, aku lebih memilih pulang berjalan kaki sendirian, menyusuri pinggiran sungai.

Sekali kita mencap diri sebagai penyendiri, rasanya mudah untuk terus begitu. Aku menghabiskan banyak waktu di luar rumah, mengamati perubahan lingkungan: lapangan rumput di belakang rumah diaspal jadi parkiran, suara burung yang makin senyap, dan air sungai yang makin keruh serta berbau tidak enak. Aku mulai membaca buku-buku di perpustakaan soal kualitas air. Saat Ayah pulang, aku akan bercerita soal sungai itu, dan dia hanya tersenyum sambil menjelaskan soal polusi dan tingkat racun di air. “Nanti kita ambil sampel airnya,” janjinya, “tapi bukan minggu ini, ya.” Itu jawaban yang kudapat berulang kali, sampai akhirnya aku nekat pergi sendiri dengan rasa kesal.

Aku pergi di hari Sabtu, menyelinap keluar saat dia sibuk menelepon. Aku berjalan masuk ke sungai sampai sebatas lutut, mencoba melangkah sangat hati-hati. Aku tahu sungai itu banyak arus tersembunyi, dan aku tidak boleh masuk terlalu jauh, apalagi kemampuan berenangku cuma sebatas dasar-dasar saja sejak Ibu pergi. Tapi meski tahu bahayanya, satu langkah salah saja sudah cukup.

Semuanya terjadi begitu cepat sampai aku tidak sadar sudah tenggelam. Air menyerbu masuk, membakar hidungku dan terasa dingin di paru-paru. Aku mengibas-ngibaskan tangan dengan panik, mencoba naik ke permukaan, tapi gelap. Aku tidak tahu arah mana yang ke atas. Aku menendang-nendang, berharap kaki menyentuh dasar sungai, tapi tidak ada apa-apa. Ayah, pikirku, meskipun aku sudah lama tidak memanggilnya begitu. Ayah, di mana pun kamu, tolong aku.

Saat tanganku membentur sesuatu yang keras, aku langsung mencengkeramnya kuat-kuat dan mengikuti arahnya naik ke permukaan. Dia menemukanku, pikirku, dia benar-benar datang menyelamatkanku. Kepalaku muncul ke permukaan, aku terbatuk-batuk mengeluarkan air, siap melihatnya berdiri di sana dengan wajah cemas dan marah. Tapi saat aku melihat apa yang kugenggam, itu bukan tali dari penyelamatku, melainkan dahan pohon yang hanyut di arus. Aku sendirian.

Saat sampai di rumah dengan badan basah kuyup dan bibir membiru, Ayah masih mengurung diri di ruang kerjanya. Aku mandi, mencuci bajuku sendiri, dan tidak pernah menceritakan kejadian itu kepada siapa pun.

Telepon satelit di pangkuanku berdering, membuyarkan lamunanku. Aku lega bisa kembali ke realitas, menjawab pertanyaan Pak Broto: tidak, kawanan sapi belum lewat; tidak, aku tidak perlu pipis; ya, aku bosan tapi baik-baik saja. Sambil mendengarkannya, aku menatap kawanan sapi itu, tanduk-tanduk mereka yang begitu megah dan kawanan serangga yang terus berputar di sekitarnya. “Sepertinya ini musim migrasi, ya, Pak?” tanyaku pada Pak Broto.

“Oh, tentu,” jawabnya santai. “Itu alasan kenapa kelompok mereka jadi sebesar ini. Mereka harus pindah ke area yang masih banyak rumputnya.”

“Mereka selalu kembali ke tempat yang sama tiap tahun?” tanyaku. “Kenapa?”

“Karena makanannya bergizi, dan predatornya sedikit. Memang susah menjaga anak-anak itu tetap aman. Hewan buas selalu mengintai. Mereka rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk memberi kesempatan hidup lebih baik buat bayi-bayi itu.”

“Mereka tetap kehilangan beberapa,” ulangku. Salah satu sapi terpisah dari kawanannya dan menoleh ke arah mobilku. Aku menatapnya balik, terpaku melihat detail tanduknya yang rumit serta sorot matanya.

“Yah, itu memang risiko jadi orang tua,” kata Pak Broto.

Aku menyipitkan mata ke arah kawanan itu, semuanya bergerak maju dengan mantap kecuali satu yang menatapku dengan mata yang sangat gelap dan dalam, membuatku merasa seolah satu langkah saja bisa membuatku tenggelam selamanya. “Mungkin juga ya,” kataku. “Boleh aku telepon balik nanti?”

“Tentu. Tunggu saja di sana.” Dia menutup telepon.

Aku menekan nomor yang sudah kuhafal sejak umur lima tahun, sebelum aku masuk taman kanak-kanak. “Ini kalau kamu tersesat,” katanya dulu dengan nada serius, berjongkok agar bisa menatap mataku. “Kalau kamu butuh mencariku, minta orang dewasa untuk menelepon nomor ini.”

Aku menahan napas, bersiap jika panggilan ini tidak diangkat, tapi baru dering ketiga, dia menjawab. “Halo?”

Aku mengembuskan napas panjang. “Ayah,” kataku sambil melihat sapi itu berbalik untuk menyusul kawanannya, “Ayah tidak akan percaya apa yang sedang aku lihat sekarang.”

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close

Adblock Detected

Support Kami Dengan Mematikan Adblock