Langit yang Tak Lagi Sama
Fajar baru saja menyentuh puncak Gunung Semeru ketika Surya menaruh cangkulnya di tepi ladang. Udara masih dipenuhi aroma tanah basah sisa hujan semalam. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat hamparan sawah yang menghijau dan desa kecil yang perlahan mulai hidup. Asap tipis mengepul dari dapur-dapur warga, sementara suara ayam bersahutan menyambut pagi.
Tak ada seorang pun yang menyangka bahwa ketenangan itu hanya akan bertahan beberapa jam.
Suara gemuruh terdengar dari arah hulu sungai.
Awalnya Surya mengira hanya batu besar yang berguling dari lereng. Namun suara itu semakin keras, disusul teriakan warga yang berlarian menuju jalan utama.
“Lahar… lahar datang!”
Surya menjatuhkan cangkulnya. Dari kejauhan terlihat air berwarna cokelat kehitaman meluncur deras membawa batang pohon, batu, dan lumpur. Arus itu menghantam apa saja yang dilewatinya. Sebuah kandang ternak roboh dalam sekejap, disusul pagar-pagar bambu yang tercerabut seperti ranting kering.
Tanpa berpikir panjang, Surya berlari menuju rumahnya.
Istrinya sudah menggendong putri mereka yang masih berusia lima tahun. Wajah perempuan itu pucat, tetapi ia tidak menangis. Mereka tahu, setiap detik jauh lebih berharga daripada rasa panik.
Mereka berhasil mencapai balai desa yang dijadikan tempat evakuasi. Dari sana, Surya hanya bisa memandangi kampungnya yang perlahan tertutup lumpur.
Rumah yang dibangunnya selama belasan tahun masih berdiri, tetapi halaman, kebun, dan kandang kambing lenyap ditelan lahar.
Malam itu, tak seorang pun benar-benar tidur.
Anak-anak menangis karena ketakutan. Para orang tua duduk memandangi langit tanpa banyak bicara. Sesekali terdengar kabar tentang jembatan yang putus atau sawah yang rusak. Semua orang memikirkan nasib yang sama: bagaimana memulai lagi dari awal.
Beberapa minggu kemudian, Surya memilih menjadi relawan.
Awalnya ia hanya membantu membersihkan rumah-rumah warga. Namun semakin sering bertemu korban bencana, semakin ia sadar bahwa musibah tidak hanya singgah di desanya.
Suatu hari ia dikirim membantu korban banjir bandang di Lampung Selatan.
Di sana ia melihat pemandangan yang tak kalah memilukan.
Air keruh memenuhi jalan-jalan kampung. Perabot rumah tangga tersangkut di pepohonan. Seorang ibu memeluk album foto keluarga yang berhasil diselamatkannya, sementara rumah yang selama puluhan tahun menjadi tempat tinggal telah rata dengan tanah.
“Aku tidak sempat membawa apa pun,” ucap perempuan itu lirih.
Surya hanya mampu menggenggam bahunya.
Tak ada kalimat yang cukup untuk menghapus kehilangan sebesar itu.
Belum selesai membantu pemulihan, kabar lain kembali datang.
Gempa mengguncang wilayah timur Indonesia.
Relawan diminta bersiap.
Perjalanan panjang kembali dimulai.
Di lokasi pengungsian, Surya melihat anak-anak bermain menggunakan bola yang terbuat dari gulungan kain bekas. Mereka tertawa seolah tidak pernah kehilangan apa pun.
Pemandangan sederhana itu membuatnya terdiam.
Orang dewasa sering kali sibuk menghitung apa yang telah hilang.
Anak-anak justru mengajarkan cara menemukan harapan dari apa yang masih tersisa.
Bulan-bulan berikutnya terasa semakin berat.
Di berbagai daerah, hujan datang lebih deras daripada biasanya. Longsor menutup jalan desa. Sungai meluap. Beberapa gunung menunjukkan peningkatan aktivitas sehingga warga di sekitar lereng diminta waspada.
Surya mulai memahami satu hal.
Alam tidak sedang memilih siapa yang akan diuji.
Ia hanya menjalankan hukum yang telah ada sejak bumi tercipta.
Yang membedakan manusia adalah cara mereka saling menguatkan setelah semuanya terjadi.
Di setiap posko, ia melihat banyak orang datang membawa bantuan tanpa diminta.
Mahasiswa memasak untuk para pengungsi.
Petani menyumbangkan hasil panennya.
Nelayan mengantarkan logistik melalui jalur sungai.
Dokter dan perawat bekerja tanpa mengenal jam.
Tak seorang pun bertanya tentang suku, agama, atau asal daerah.
Semua datang dengan tujuan yang sama.
Menolong.
Suatu sore, Surya kembali ke desanya.
Lumpur telah mengering. Rumah-rumah mulai diperbaiki. Anak-anak kembali berangkat ke sekolah melewati jembatan darurat yang dibangun bersama-sama oleh warga.
Putrinya berlari menyambutnya sambil membawa sebatang bibit sengon.
“Ayah, Pak Guru bilang kalau menanam pohon juga ikut menjaga bumi.”
Surya tersenyum.
Mereka berjalan menuju lahan kosong di belakang rumah.
Dengan tangan yang masih dipenuhi bekas luka akibat bekerja sebagai relawan, Surya menggali tanah kecil itu. Putrinya memasukkan bibit pohon, lalu menimbunnya kembali dengan hati-hati.
“Hanya satu pohon, Yah?”
Surya menggeleng.
“Kalau setiap orang menanam satu pohon, suatu hari nanti jumlahnya akan menjadi jutaan.”
Anak kecil itu mengangguk pelan meski mungkin belum sepenuhnya mengerti.
Namun Surya percaya, perubahan besar selalu dimulai dari langkah yang sederhana.
Ia menatap langit yang mulai memerah menjelang senja.
Langit itu masih sama seperti bertahun-tahun lalu.
Yang berbeda adalah dirinya.
Kini ia mengerti bahwa manusia memang tidak dapat menghentikan hujan, gempa, ataupun letusan gunung. Tetapi manusia selalu memiliki pilihan untuk saling menguatkan, menjaga alam, dan bangkit setiap kali kehidupan terasa runtuh.
Dan selama harapan masih ditanam, seperti bibit kecil yang baru saja mereka letakkan di tanah, selalu ada keyakinan bahwa masa depan akan kembali bertumbuh.




